Skip to main content

Insecurity

Lucunya, sehari setelah saya menulis tentang orang yang berbicara hal-hal tidak perlu pada postingan Keep it for Yourself (K.I.Y), saya kembali menemukan adegan lucu di supermarket.

Sore selepas hujan, setelah seharian berdiam di rumah bolak balik tidur dan makan, saya dan housemate memutuskan untuk belanja bulanan. Sabun dan segala macam kebutuhan dapur.

Cerita ini saya dapat dari housemate, karena ia yang mengantri di supermarket sedangkan saya tidak berbelanja apapun, kecuali dari health store yang masih berada dalam kawasan yang sama.

Sepasang suami istri yang membawa anak mereka yg masih bayi, ikut mengantri di belakang housemate saya. Karena jarak yang tidak seberapa, apapun yang dikatakan pasangan itu terdengar oleh Housemate.

So this is a story of a commenter-father

"Serasa pengen bantuin penjaga kasirnya, lelet amat" komentar pertama.

"Padahal UMR ya, tapi kenapa gak banyak yang buka kasirnya. Apa karena lagi efisiensi karyawan, hu" komentar kedua

"Ih disini kok gak kedengeran azan? Kristen banget sih!" Komentar ketiga

"Lihat deh ibu itu, belanja nya satu juta. Bayarnya pakai kartu kredit!" Komentar keempat.

Dari keempat komentar itu, adakah yang pantas untuk diungkapkan oleh seorang ayah - sang kepala keluarga?

Terutama bagian akhir, ketika dia mengomentari ibu yang berbelanja di depan housemate. Memang yang dia beli sekumpulan diapers, sabun dan sebagainya, dan dibayar dengan kartu kredit. Bagi bapak itu, hina sekali orang yang membayar dengan cara hutang. Well, mungkin dia tidak tahu bahwa untuk punya kartu kredit seseorang harus punya riwayat penghasilan meyakinkan, dan jumlah tabungan mengendap minimal sepuluh-dua puluh juta (tergantung jenis kartu kreditnya).

Seusai menceritakan itu, saya dan housemate buru-buru keluar menjauh seraya mengusap dada dan berkata 'Naudzubillahi mindzalik' karena hal terburuk yang bisa terjadi dalam hidup adalah hidup bersama negative people.

***

Menghakimi, menilai, mengomentari yang tidak perlu sebetulnya adalah bagian dari insecurity. Saya berasumsi bahwa bapak tadi melakukan itu untuk menutupi insekuritas nya, dengan ego yang tinggi. Setiap orang pasti insecure terhadap sesuatu. Ada yang menutupi dengan mengungkit kejelekan orang lain agar kejelekan sendiri dapat memudar, dan ada yang menerima dan mengakui secara berlebihan agar merasa lebih baik dengannya.

Insecure itu wajar, yang tidak wajar adalah jika merasa diri lebih baik oleh hal-hal yang dimiliki untuk menutupi insekuritas.

Misal, bapak tadi insecure dengan penghasilannya yang hanya mampu membelikan istrinya Indomie, telur dan sekantong gulungan tisu rol kamar mandi. Melihat seorang ibu belanja sendirian dengan nominal yang mungkin menurutnya wah (mungkin menurut ibu itu biasa saja nominal segitu), ia menutupi insecurity nya dengan menjelekkan si ibu di depan istri. Agar ia terlihat lebih baik.

Lihat dong, setidaknya walau sedikit, saya bayarnya cash, dan gak ngutang.

Judgement semacam itu banyak terjadi dimana-mana. Merasa diri paling baik karena melakukan sesuatu, dan menghakimi orang lain yang berbeda.

Kenapa?

Karena semua orang butuh pengakuan. Butuh dianggap lebih baik, lebih hebat, lebih kaya, lebih relijius, lebih pandai, dan lebih lebih lainnya.

Status sosial menjadi begitu penting, terlihat dari perdebatan tanpa ujung antara ibu rumah tangga dan ibu bekerja.

Pengguna kartu kredit dan anti kartu kredit.

Pemakan riba dan anti riba.

Dan karena kita senang mengkotak-kotakan, jadilah kita hanya memilih mereka yang sejalan untuk dijadika  teman. Selebihnya biarkan jadi kenalan saja. Kita harus sama agar bisa berkawan.

Sedihnya kita berlindung dibalik slogan Bhineka Tunggal Ika. Indonesia mustahil bisa bersatu jika pada hal-hal sekecil itu masih saling menghakimi dan merasa benar sendiri.

Atau mungkin hanya perang yang bisa menghapuskan perdebatan itu. Orang kan jadi lebih sibuk bertahan hidup. Lupa apakah ia pengguna kartu kredit atau bukan, ia akan meminta bantuan pada siapapun yang ditemui dijalan.

***

Berbeda pendapat namun masih bisa saling menerima, hanya akan muncul dari jiwa-jiwa yang kuat. Yang yakin pada apa yang ia pegang teguh di dalam hati, dan percaya diri bahwa dirinya lebih baik tanpa harus mengecilkan orang lain.

Orang yang suka mengecilkan orang lain, adalah cerminan jiwanya sendiri. Misery loves company.

Saya menganut prinsip minimalism, dan anda adalah orang yang senang berbelanja berlebihan. Tidak apa. Saya dengan prinsip saya, anda dengan hobi kesukaan anda. Selama itu tidak mengganggu, ada baiknya saya tidak mencekoki anda untuk menganut prinsip yang sama.

Saya hanya perlu melakukan tugas saya, menulis blog ini salah satunya, meyakini yg saya lakukan itu benar, dan terus memperkaya diri dengan pengetahuan agar jika sewaktu-waktu ada orang yang ingin belajar menjadi minimalist, saya punya ragam jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan serupa.

Saling harga menghargai adalah prinsip dasar bernegara. Jika dibutuhkan diskusi, bukalah pikiran terhadap kemungkinan bahwa si lawan membawa kebenaran.

Mungkin..

Mungkin jika hal ini diteruskan kepada setiap generasi penerus, dunia ke depan akan lebih damai tanpa cekcok. Tanpa perlu mendebatkan bagaimana caranya membayar barang belanja: kredit, atau debit.

***

Ps. Saya pun masih terhitung sebagai pengguna kartu kredit, karena dalam proses pembayaran tertentu, tidak bisa dilakukan menggunakan kartu debit. Tidak semua pengguna kartu kredit itu hina karena mengandalkan hutang, dan tidak semua juga pengguna kartu debit itu mulia karena tidak pernah berhutang. Hindari kesombongan di dalam hati, karena Allah tidak akan meridhoi apabila masih ada sombong meskipun sebesar biji zarrah.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …