Skip to main content

Bulan dari Balik Bingkai Berkayu

Pukul lima sore langit masih biru, dari balik jendela kayu, saya menyaksikan rembulan yang sudah siap memantulkan cahaya lembut.

Terkotak rapi melalui bingkai kayu yang juga biru, pukul lima sore sembari menunggu semangkuk bakso berkuah mengepul, saya nikmati pemandangan itu. Rembulan, terbingkai indah dari balik jendela kayu.

Semakin lama semakin nampak cahayanya. Langit kian menggelap, oleh sinar matahari yang kian tenggelam.

Kini giliran sang bulan bersinar diam-diam. Semakin malam terbitkan temaram.

Kuning? Bukan. Putih? Bukan juga. Apa sebenarnya warna Sang Bulan? Saya bertanya dalam hati. Jika putih gading jawabnya, mengapa begitu cerah bersinar?

Bersih sekali langit sore tadi, hingga awan pun malu menampakkan diri. Mereka tidak berani mendekati Sang Bulan yang dengan percaya diri tampi sendiri.

Mungkin awan sadar, ia hanyalah partikel yang mudah tercerai berai. Tidak cukup kokoh bagi Bulan yang kuat dan bersinar. Bulan hanya menginginkan Matahari. Yang setara, dan sepadan dengan sinarnya yang cerah menari.

Apa warna Bulan?

Atau mungkin..

Itulah kode bagi Bulan mengisyaratkan tentang keberadaan Tuhan?

Dia menciptakan beragam warna di muka Bumi, namun tak satupun warna menyamai Bulan yang indah dan hanya satu bagi Bumi.

Dia menciptakan beragam makhluk di seluruh semesta, namun tak satupun menyamai diri-Nya sebagai Sang Pencipta Segala.

Sore tadi pukul lima, sudah berubah menjadi pukul enam. Matahari sudah hilang sepenuhnya, menyisakan langit yang bergradasi biru cerah nan temaram. Memberi ruang bagi Bulan untuk menampilkan kelihaiannya, dalam menerangi dengan kelembutan.

***

Indah? Tentu saja. Saya ingin bisa duduk diam memandangi langit yang berubah warna, sejak Bulan masih putih pudar dan pucat hingga bersinar gemerlap nan mewah. Duduk, diam, memandang, dan mengagumi.

Sempat saya bagi pemandangan tadi, pada rekan dan atasan yang berbagi meja tanpa jendela. Saya persilakan mereka mengambil sudut tempat saya menikmati Sang Bulan, yang hanya ditanggapi dengan oh pelan lalu melanjutkan pembicaraan.

Setelahnya saya berbisik pada Tuhan, agar siapapun yang telah ia tulis jauh sebelum saya dilahirkan, adalah seseorang yang sama dan sepadan bagi saya. Dia mengerti bahasa dalam diam, mengerti indah tanpa harus terucapkan. Mengagumi langit dan seisinya, sebagaimana saya mengagumi langit dan seisinya. Jadi saat kita sudah renta dan hendak menutup usia, kita masih bisa membagi keheningan yang sama. Tanpa perlu saling bicara, kita sudah mengerti bahwa kita tetap akan bersama. Sebagaimana Bulan dan Matahari yang terpisah, akan bertemu pada satu masa yang telah ditentukan.

***

Sebuah kabar datang dari sebrang, tentang berita bahagia dua orang kawan lama. Kebahagiaan yang membuat saya tidak habis pikir, ternyata kesempurnaan yang kita cari selama ini, nyatanya berada dekat sekali.

Rahasia tercipta agar hidup lebih berkesan. Untuk itu saya bersyukur bahwa orang yang Tuhan sudah takdirkan bagi saya masih bersifat rahasia. Karena sembari menunggu, saya berusaha diam dan tidak menerka, agar terhindar dari ekspektasi yang mematikan.

Saya ingin menjadi Bulan, bagi Matahari yang menjadi sumber kehidupan. Telah lama saya menyangka akan menjadi Matahari, sampai akhirnya saya sadar saya bukanlah Matahari.

Saya ingin menjadi Bulan, bagi Matahari yang lelah bekerja seharian. Menggantikan posisinya dalam diam dan tenang, agar esok ia bisa kembali mengemban amanah yang telah ditakdirkan.

Bukan Bulan yang menjadi sumber kehidupan. Dan bukan Bulan juga yang menjadi pusat revolusi tata surya.

Saya ingin menjadi Bulan, yang tetap bersinar meski gelap membayang. Menenangkan, dan menjanjikan kebahagiaan. Saya ingin menjadi Bulan. Bagi dia yang sedang dalam perjalanan.

***

Seorang minimalist akan memberi ruang, bagi siapapun yang berada disekitarnya. Ia tidak akan mengkonsumsi banyak ruang, karena barang bawaannya telah dipilah, hanya yang penting dan menyenangkan yang ia simpan. Tidak ada lagi benda yang disimpan hanya karena jika sewaktu-waktu digunakan.

Semua benda telah dipilah, dikeluarkan, dan direlakan. Mereka terlatih sekali untuk tidak melekat pada benda atau apapun yang sifatnya sementara. Mereka sudah tahu jauh sebelum berpisah, bahwa perpisahan tidaklah terelakkan.

Seperti halnya Bulan yang beredar mengelilingi Bumi, dalam hening sendiri ia bepergian. Seorang minimalist tidak akan keberatan untuk mengarungi tugasnya sendiri, tapi sesekali ia butuh Matahari untuk bisa kembali berjalan dengan rapi.

***

Kita sudah terlalu lama saling mencari, pada suatu hal yang kita pikir sempurna. Padahal semua itu ada celah, tapi Matahari tetap mencintai Bulan yang wajahnya retak jika dilihat dari dekat.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …