Skip to main content

A Good Cry

Men are taught to be strong since a little age,
Women are taught to be strong, especially since feminist arise,

As if the world has no place for the weak.
But.. Is it true?

***

Seorang perempuan penderita depresi memberanikan diri bercerita di depan publik, TED Talk tepatnya. Berkisah tentang pengalamannya didiagnosa terserang depresi, dan memiliki tingkat kecemasan tinggi.

Tujuan pembicaraannya sederhana; ingin membuat orang lain yang terkena serangan yang sama, tidak merasa sendirian. Karena melalui depresi, tidak boleh diam-diam.

Angka tingkat bunuh diri sekarang semakin mengkhawatirkan, sebab dunia semakin sering berbicara dan jarang mendengar. Jangankan memahami, mendengar pun susah. Aku, aku, aku, ujar semua orang. Tidak ada ruang untuk orang lain karena aku lah yang terpenting.

Karena tanpa disadari, depresi justru adanya dekat sekali. Seseorang bahkan tidak bisa mengidentifikasi depresi yang sedang menjangkiti dirinya. Ya, berdasarkan cerita perempuan tadi. Dia tidak merasa dirinya sedang depresi, karena dia punya semua yang orang inginkan. Karir gemilang, keluarga yang mencintainya, kehidupan yang terbilang cukup mapan, seolah-olah dia tidak berhak depresi.

But she is.

Kenapa?

Tidak ada sebab yang pasti apa yang menyebabkan seseorang menjadi depresi, setidaknya itu yang saya simpulkan dari beberapa artikel dan tayangan video yang saya amati. Karena dia (depresi), bisa menyerang siapa saja, bahkan orang yang terlihat bahagia sekalipun. Silakan kalau mau mencari tahu gejala depresi, saya hanya bisa menyebutkan sedikit diantaranya yaitu; gelisah, pola makan tidak teratur, susah tidur atau insomnia, tidak bisa berhenti berpikir, selalu tampak bahagia, dan selalu menyibukkan diri.

Ya, mudah jika dicari di internet. Dan beberapa orang mungkin merasa gejala itu ada di dirinya.

Namun jika internet berkata tidak ada sebab yang pasti dari penyakit depresi, bagi saya tentu ada sebabnya. Yaitu kurang bersyukur. Agama saya mengajarkan bahwa semakin seseorang bersyukur dengan keadaannya, semakin berlimpah kebaikan dan rahmat yang diberi oleh Tuhan kepadanya. Sebagai perumpamaan betapa sentral peran 'kebersyukuran' dalam hidup. Kita bisa punya semua yang kita damba: rumah, mobil, motor, suami, istri, anak, tapi jika tidak bersyukur, semua akan terasa kurang dan tetap tidak membahagiakan.

Alasan seseorang depresi adalah karena dia menginginkan sesuatu dalam hidupnya yang tidak bisa ia miliki. Depresi datang karena adanya ketidaktercapaian. Tentu seseorang dengan depresi tidak pernah benar-benar bahagia, tapi ia lihai dan amat mahir menyembunyikan ketidakbahagiaannya dengan bahagia yang membuat orang lain iri. Pun orang dengan depresi tentu akan malu membagikan kisahnya, karena takut dengan judgement orang. Jadilah mereka pribadi yang amat pandai berpura-pura.

***

In life we cannot always achieve the things that we want. Selalu ada hal yang too good to be true, tapi tetap saja kita dambakan sampai waktunya tiba ternyata memang tidak bisa kita dapatkan. Akhirnya kecewa.

Hanya kita yang bisa mengontrol diri sendiri, terlebih jika kita malu untuk terbuka dengan orang lain. Mengendalikan keinginan agar jangan sampai menginginkan sesuatu yang bukan milik kita. Or in other words; minimalism.

Menjadi seorang minimalist juga berarti melepaskan keinginan-keinginan dan ambisi yang tidak tahu bagaimana cara mewujudkannya. Hanya menyimpan harapan yang kita tahu cara merealisasikannya. Semacam realist tapi bukan pesimist. Minimalist tetap pursuing the dream, mimpi terliar sekalipun. Namun berada dalam track dan jalur yang jelas langkahnya. Minimalist tau kapan harus berpegang teguh pada keyakinan abstrak itu, dan kapan juga harus merelakannya pergi.

Agar terhindar dari cekaman keinginan dan rasa memiliki yang terlalu tinggi, menjadi seorang minimalist adalah satu-satunya cara yang mudah dan murah ditempuh.

Jika kita sadari bahwa semua ini hanya sementara, attachment terhadap benda-benda atau ikatan sosial akan berkurang. Karena kita sadar bahwa sewaktu-waktu mereka akan pergi. Sehingga jika itu terjadi, kita sudah siap dan tidak jatuh terlalu sakit.

Kesadaran itu juga akan membuat kita semakin menghargai waktu bersama dengan orang yang menyayangi kita. Tidak akan kita siakan dengan me maintain hubungan tanpa makna. Keluarga adalah satu ikatan paling kuat yang harus dipelihara, namun juga paling sering diabaikan. Kita semakin fokus mengejar orang lain, sampai lupa ada bapak dan ibu yang juga butuh perhatian kita.

Setiap detik ada orang yang kehilangan orang-orang yang dikasihinya. Atau benda-benda berharganya. Kita tidak tahu itu sedang terjadi karena jauh dari tembok rumah yang mengelilingi. Dan siapa yang menjamin suatu waktu kita pun yang mengalami.

Untuk itu sebelum semua itu terjadi pada kita, hargailah apa yang benar-benar berharga. Yang benar-benar membahagiakan kita dan menyangi kita. Tidak perlu membuang energi mengejar orang/benda yang belum tentu akan menjadi milik kita.

***

Kita semua diajarkan untuk kuat, tangguh dan mandiri. Tapi sewaku-waktu kita diizinkan untuk lemah dan tidak perlu malu karenanya. Baik laki-laki atau perempuan, pantas mengalami one good cry, untuk melepaskan keinginan/attachment yang tadinya mencengkram erat isi kepala kita.

Melepaskan tidak pernah menjadi sesuatu yang mudah. It takes courage, effort, and a big heart space. Dan dalam prosesnya tentu akan sakit.

Maka menangislah.

Silent cry in a good way, is one act of release from depression. Asal janji, setelah itu, kita bangkit lagi, dan maju lagi. Jangan pernah terpikir untuk berhenti. Istirahat, bukan menyerah.

Everyone deserves a good cry in one of their night. Keep it for your self, and embrace it without fear of being judge. You don't have to be strong all the time. Sometimes weakness shows that we're still human. Natural intelligence. Not.. An Artificial one.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …