Skip to main content

The Old Souls

Kita masih sepakat bahwa bumi ini bulat, dan bergerak memutar. Segala yang terkandung di dalamnya, pun bergerak melingkar. Sebagaimana jaman, yang semakin menuju titik awal.

Ada orang-orang yang percaya pada reinkarnasi. Kelahiran kembali jiwa-jiwa yang sudah 'berpulang'. Ada yang tidak.

Dalam agama yang saya yakini, memang tidak ada reinkarnasi, dan saya juga tidak mempercayai bahwa kita akan dilahirkan kembali. Kalau dibangkitkan kembali, iya saya percaya. Tapi bukan dilahirkan sebagai bayi lagi.

Meski begitu saya tidak pernah menutup diri dan membatasi diskusi hanya pada hal-hal yang saya yakini. Justru saya senang mendengarkan orang-orang dengan keyakinan berbeda, sebagai satu dua insight baru agar saya tahu bahwa "oh.. Ada ya yang begitu" tanpa perlu menggadaikan keyakinan saya sendiri.

Suatu hari saya bercerita dengan seorang teman, yang meyakini adanya reinkarnasi. Ia bilang, bahwa saat ini the old souls, jiwa-jiwa yang telah hidup ribuan tahun lalu, sedang menunggu untuk dilahirkan kembali. Mereka sedang 'mengantre' untuk lahir menjadi manusia utuh dari keluarga pilihan.

Generasi kita - saya dan millennial lain - adalah generasi yang dipilih untuk membesarkan the old souls ini. Dari generasi kita nantinya akan lahir generasi yang membawa peradaban semakin maju, karena mereka dulu sudah pernah hidup di peradaban tersebut. Mereka yang akan kita lahirkan, akan menciptakan dunia baru, secanggih Atlantis yang hilang.

***

Generasi 90an memang istimewa, karena menjadi generasi peralihan di segala bidang. Kita merasakan era pra-teknologi dan era kemajuan teknologi. Kitalah generasi transisi. Sebagai penutup sekaligus pembuka. Kita sebagai pengantar, dan sebaik-baiknya pengantar adalah yang sampai pada tujuan.

Saya menanggapi cerita teman saya dengan antusias. Karena memang saya suka mendengar hal-hal yang berkaitan dengan alam tak terlihat. Jika old souls itu benar ada, saya pun punya penjelasan masuk akal mengapa mereka dilahirkan dari generasi millennial.

Kita yang dilahirkan di era 80an akhir dan 90an adalah anak-anak muda yang kini menjadi pengguna utama kecanggihan teknologi. Padahal, sewaktu kecil dulu kita masih bermain dengan tanah dan hujan.

Perubahan drastis yang kita alami membuat kita jadi generasi kaget dan haus akan informasi. Haus akan pengetahuan baru, dan pesat dalam belajar. Kita menjadi generasi yang mendukung perubahan, karena melalui kitalah perubahan itu ada.

Banyak hal yang dikritisi oleh generasi ini, jadi apa yang sudah sejak dulu ada sebagai tradisi, mulai ditinggalkan. Dan sebaliknya, apa yang sejak dulu ditinggalkan kini mulai dilakukan kembali. Kita menimbang segala sesuatu dari beragam aspek. Jadi bisa saja yang selama ini dianggap baik ternyata terbukti buruk (melalui riset dan sebagainya), juga yang selama ini terlupakan bisa kita kembalikan, karena kesadaran yang mulai terbuka antara ilmu lama dan ilmu baru.

Para perempuan semakin cerdas. Generasi kita, punya banyak perempuan handal. Yang tidak sekedar memamerkan kemolekan tubuh, tapi juga cerdas dan kritis. Beberapa dari mereka malah rela untuk tidak berkarir demi bisa membesarkan anak dengan baik dan penuh dedikasi. Yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Sekali lagi: kesadaran. (Jadi tidak perlu ada perempuan yg merasa terpaksa bekerja terus menerus di rumah, menganggap diri sebagai korban, lalu menjadi feminist). Kesadaran sebagai buah dari kecerdasan, adalah fitur istimewa perempuan millennial.

Wajar jika nantinya dari rahim perempuan-perempuan ini lahir generasi hebat yang akan membawa peradaban lebih maju lagi.

***

Awalnya saya pikir old soul adalah jiwa-jiwa yang senang dengan hal-hal jadul, kuno, dan berserjarah. Karena saya pikir saya adalah salah satunya.

Jika saat ini ada di antara kalian (perempuan millennial) yang sudah memiliki anak, bisa jadi anak anda adalah salah satu dari old soul yang pernah hidup di jaman Atlantis. Yah.. Jika percaya reinkarnasi sih,. Tapi kalau tidak percaya, maka yakinlah bahwa anda adalah perempuan yang dipercaya menangkup tanggung jawab generasi masa depan. Jangan sia-siakan potensinya. Temukan dan kembangkan dari sekarang.

Siang tadi saya bercerita dengan seorang rekan yang baru selesai dari cuti, dan juga ditinggal pergi oleh baby sitter yang sangat ia andalkan. Terlihat dari wajahnya seakan ia ingin meninggalkan pekerjaan karena tidak tega pada sang bayi yang belum genap setahun. Tapi ia juga berat meninggalkan karir yang telah ia bangun. Dilema yang membuat saya sadar, bahwa menjadi perempuan adalah tentang berbesar hati.

Kerelaan, keikhlasan, yang dijanjikan surga oleh Allah Yang Meridhoi. Pasti tidak mudah. Makanya dijanjikan surga.

One of special feature of being minimalist is: we have less desire. Letting go is never easy, but we train our self, every day every hour, to never get attach to anything. So one day, when needed, we could let go of the thing.. easily.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert