Skip to main content

The House of Energy

"Gue selalu percaya sama law of attraction" Kata Kak Bukhi beberapa saat setelah pesawat kami lepas landas. Garuda Explore yang membawa penumpang dari Bandara Silangit menuju Soekarno-Hatta bergerak menembus awan yang bergumpal padat. Saya memilih sebangku dengan Kak Bukhi ketika melakukan web check in semalam. Setelah apa yang dia lalui, setelah kebisuan saya membiarkannya menangis di kamar, dan setelah saya melihat sendiri caranya menghadapi beberapa kegagalan beruntun dalam minggu-minggu ini.

I admire a calm soul. The soul who get into trouble and still smiling so bright, and cover it well. Tidak banyak orang yang bisa menyembunyikan kegelisahan, kesedihan atau ketakutannya. Beberapa memilih untuk membicarakan secara verbal hal-hal yang menjadi kekhawatiran, yang sebetulnya tidak perlu (yah.. biasanya emak-emak lah ya, to be frank).

"Ketika kita mengeluarkan energi positif, maka energi itu akan terkumpul di dalam rumah energi. Yang jika kita fokuskan pada satu tujuan, maka energi itu akan mendorong kita menuju tujuan tersebut. Makanya kita mesti banget mendefinisikan tujuan, maunya seperti apa dan itu harus detail. Karena kalau ibaratnya tujuan itu adalah rumah, maka kita harus mendefinisikan rumah yang seperti apa, bentuknya seperti apa, suasananya bagaimana, dan isinya mau kayak apa. Jangan sampai kita sudah punya rumah itu, tapi ketika masuk.. loh kok begini? Gak sesuai.." Lanjutnya panjang lebar. Saya mengangguk setuju. Dalam hati membenarkan teorinya, karena dalam Islam pun selalu dianjurkan untuk berdoa, meskipun Allah yang paling tahu isi hati, keinginan serta kebutuhan hamba-Nya tetapi manusia selalu diminta untuk berdoa. Untuk apa lagi kalau bukan untuk mendefinisikan apa yang benar-benar dia mau.

The universe always have a way for people who know what they want. Mengutip makna dari tulisan Paulo Coelho dalam bukunya yang fenomenal, The Alchemist.

***

Mendefinisikan fokus tujuan, sebenarnya bukan hal mudah namun sering dianggap sepele. Saya selama ini, tanpa sadar telah mendefinisikan tujuan saya berfokus pada karir yang akhirnya berujung bahagia. Saya yakin, siapapun yang meminta pada-Nya tidak pernah dikecewakan. Pun ujian yang diberi bukan untuk membuat kecewa apalagi nelangsa, melainkan untuk menambah kelapangan hati dan rasa syukur.

Dalam percakapan itu kami berdua sepakat untuk memilih rasa syukur sebagai kunci segalanya. Pada kepercayaan yang Kak Bukhi pegang, rasa syukur itu harus diungkapkan setiap waktu, bahkan dituliskan di atas kertas agar mudah diingat. Dalam kepercayaan yang saya pegang, rasa syukur ada pada sholat lima waktu yang wajib dilakukan.

Sholat memang menjadi lebih mudah ketika ada hal yang ingin kita bicarakan dengan-Nya. Sedihkah, gembira kah, terlebih ketika kita memahami arti dan makna yang diucapkan selama prosesnya.

Dalam sholat pun sebetulnya seseorang diajarkan caranya untuk fokus, karena menurut the minimalists Josh dan Ryan yang sedang sibuk-sibuknya melakukan tour dan rekaman podcast, distracted people are rarely create something. Fokus. Sesederhana itu rupanya kunci keberhasilan. Define what we want, and focus to the goal.

"Jadi kalau sekarang fokus energi ku ada pada jodoh, dan ternyata di waktu bersamaan aku justru gagal membangun hubungan, ya berarti memang bukan dia. Memang harus di detox (dilepaskan ikatan hubungan yang selama ini mereka pegang)" Kak Bukhi masih terlihat tenang, meskipun dalam beberapa jam ia akan bertemu dengan seseorang yang tidak pernah ia sangka akan menjadi - mantan kekasih -

***

Housemate yang kemarin saya tinggal dalam keadaan bingung memilih antara dua hati, kini nyaris mantap meletakkan keputusannya. Pembicaraan malam hari sepanjang dan selepas makan malam berputar seputar jodoh dan keputusan pernikahan. Saya menggelontorkan semua hal--SEMUA HAL-- yang saya dapat dari obrolan dan nasihat-nasihat di mobil sepanjang penelusuran Toba Samosir - Simalungun.

Pagi hingga malam saya habiskan waktu dengan bapak-bapak muda, ayah satu-dua anak yang telah memilih pasangan hidupnya. Mendengarkan cerita mereka secara bergantian, seolah tak pernah habis. Kisah masa lalu mulai dari pacaran yang gagal, rasa suka yang dipendam pada sahabat yang berujung tidak berbalas hanya karena tidak berani, dan keputusan menikah yang diambil dengan berani tanpa ada wanti-wanti.

Ya, rata-rata mereka memutuskan untuk menikah hanya pada satu jentik moment. That one moment, yang merubah total hidup mereka. All you need is just that moment. Tapii... kata mereka lagi... syaratnya untuk dapat menemukan moment itu, maka kita harus yakin dulu pada apa yang kita mau. Mau menikah? yakin ingin menikah.

Di pagi sampai siang hari, bapak-bapak itu bercerita tentang betapa tidak enaknya kehidupan setelah pernikahan yang tak lagi romantis. Saat pulang kerja capek dan penat, sampai rumah tidak ada lagi sambutan hangat dari sang istri seperti waktu di awal dulu. Saat istri sibuk dengan dunia dan pekerjaannya sendiri, mereka seperti bujang terlunta-lunta yang harus turut mengasuh anak-anak. Semua diceritakan dalam rupa lelucon, yang membuat saya agak sedikit bersyukur masih tetap single hingga sekarang.

Namun ketika malam mulai menampakkan diri, jalanan mulai sepi dan Danau Toba tidak lagi terlihat, mereka mulai memuji indahnya kehidupan setelah menikah. Dalam suasana mendayu, mereka akan mendorong saya pun segera menikah, karena ketenangan batin yang didapat tidak akan pernah diperoleh dari manapun selain dari pasangan. Ya.. itulah gunanya mendengarkan, dan bergaul dengan berbagai macam orang dalam waktu lama. Seperti diarahkan pada hal-hal acak yang sebetulnya mengarah pada sesuatu. Pada entah apalah itu.

***

Apapun yang sedang kamu jalani, yakini dan ingini saat ini, all you need is to focus on the dream. Saya teringat perkataan seorang supir, yang selama tiga minggu menemani saya blusukan di Jambi, supir yang seperti abang saya jadinya karena sangat perhatian, pengertian, dan mampu menenangkan ketika saya sedang labil-labilnya ditinggalkan pasangan, "Saya kalau mau sesuatu, saya peluk erat keinginan itu, Bu. Saya rangkul dalam-dalam, dan saya yakini bahwa suatu saat akan terkabul. Waktu saya mau menikah, saya benar-benar fokuskan ingin menikah, maka saya bertemu istri saya. Setelah itu saya ingin punya mobil, jadi saya rangkul benar-benar keinginan itu. Alhamdulillah terwujud" Dan memang sebagai supir, Bang Ambek, nama supir itu, bukan hanya seorang supir rental. Dia pun adalah pemilik mobil, sekaligus orang kepercayaan yang dipercayakan mengelola rental, membawahi belasan supir lain.

Fokus pada keinginan yang kamu yakini baik untuk hidupmu. Perihal resiko dipikirkan nanti dulu, karena kalau sudah ingin, dan sudah diberi jalan, itu artinya semesta mempercayai amanah itu mampu kau emban. Bukankah manusia harus selalu terbiasa untuk berjuang, menembus garis batas kemauan, memaksimalkan potensi, dan lain sebagainya?

Bangun rumah energi mu dari sekarang. Apa rumahmu itu? Pasangan? Jabatan? Pendidikan? bangun dan lukiskan dengan lugas, ingin rumah seperti apa, dan isinya bagaimana. Marie Kondo pun selalu menekankan pada tujuan, ruang seperti apa yang kau inginkan untuk rumahmu, hidup seperti apa yang ingin kau jalani sebelum benar-benar memutuskan untuk tidying-up. 

Dan diatas itu semua, kita harus yakin pada tujuan itu pasti akan kita raih. Jika segaris dengan yang dituliskan semesta untuk kita, maka apapun rintangannya pasti akan bertemu juga. Meskipun bumi mendadak menjadi datar, dan manusia bisa menjalin hubungan kasih jarak jauh antar planet, keinginan kita pasti akan terwujud jika memang semesta mengijinkan. Jangan takut akan resiko. Toh pada akhirnya kita semua akan pergi dari sini dalam keadaan mati.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …