Skip to main content

Tentang Membuka Hati

Jalanan lengang sore hari di Cikampek menggelitik saya untuk menulis sesuatu yang berbau-bau romantis.

Menghabiskan waktu di rumah eyang memang bisa rawan terbawa perasaan, antara nostalgic dan juga takut akan masa depan. Rumah yang sudah di tempati entah sudah berapa generasi itu masih kokoh meski beberapa atap sudah terkelupas. Dulu, saya habiskan masa kecil semasa taman kanak-kanak bermain dengan teman khayalan. Karena rumah dengan halaman luas itu, terpagari dan jauh dari rumah-rumah lain tempat teman-teman saya bermain.

Impian saya adalah agar bisa menikah di kota itu, di dekat sekolah saya waktu kecil dulu. Eyang dan nenek pun tak henti menanyakan siapa yang kini sedang dekat dengan saya, sembari berharap orang itu segera mewujudkan pernikahan yang amat mereka tunggu.

"Tidak ada" jawab saya jujur.

Seolah tidak percaya, mereka terus menanyakan sederet nama yang pernah mampir dan tidak kembali lagi.

Selama ini saya tenang-tenang saja, (bahkan tidak ngoyo dalam berdoa) agar segera dipertemukan dengan dia yang masih dalam perjalanan. Kenapa? Karena saya percaya pada proses dan skenario-Nya.

Pernah satu kali, saya duduk berdua dengan seseorang yang saya jatuh hati. Berbicara mengenai rencana masa depan, selepas hari berat dan melelahkan yang kita lalui di desa-desa pelosok Kalimantan sana.

"I see, there is no marriage in your list" ucapannya membuat saya terdiam. Memang benar saya tidak merencanakan hal itu. Tapi sebenarnya bukan karena saya tidak mau, saya hanya takut kecewa dan patah hati lagi jika merencanakan sesuatu yang saya tidak tahu cara mencapainya.

Obrolan selanjutnya adalah history. Dimana akhirnya kami berdua sepakat untuk mengakui perasaan masing-masing, tapi hanya sampai disitu saja. Tidak akan kemana-mana.

Lagi, tanpa direncanakan, hati saya patah untuk kesekian kali.

Semenjak itu saya bungkus rapat-rapat. Meski satu dua datang mendekat, saya hanya akan menjawab dingin. Silakan mendekat jika kamu memang yakin saya orangnya.

***

Teman se rumah saya, saat ini tengah mendapati hari bahagianya. Masa penantian yang lama ia jalani terjawab sudah. Meskipun awalnya ia ragu karena seseorang yang datang menjemput, tidak seperti yang ia damba selama ini.

"Mau cari yang sempurna itu most likely impossible, sist" saya mencoba memberi masukan "at least he chose you. We, women, should chose the one who chooses us. And at least you guys are friends, you can annoy him without worrying he will angry. Isn't marriage only about end up with people you can annoy for the rest of your life"

But look who's talking. Lol. Orang yang gagal membangun friendship in her five years relationship.

***

Beberapa orang try to set me up with some guy. Saya menolak dengan halus karena saya tahu, saya bukan tipe perempuan yang akan dijatuh-cintai pada pandangan pertama. He need to get to know me before he fall in love with me. Jadi saya semakin menarik diri, membangun dinding yang tinggi, dan bersembunyi. Lebih aman disini, saya berbisik dalam hati.

"Memang kamu maunya yang kayak apa?"

Pertanyaan yang sering sekali saya dengar. Saya akan jawab dengan singkat: yang bisa jadi teman.

"Tapi setiap kali ada teman datang mendekat, kamu menjauh dan menutup diri"

Saya terdiam.

Ya, saya memang takut dan geli sendiri jika ada teman yang mulai mulai menunjukkan hal aneh dan tidak wajar. Ketika itu terjadi, saya akan biarkan, left the chat unopened for weeks.

***

Mungkin ini tentang sulitnya membuka hati setelah berulang kali dikecewakan. Yang ketika saya menemukan seseorang dengan sikap sempurna, semua yang saya inginkan ada padanya, tapi tetap saja berakhir tidak bahagia.

Percayalah nasihat serupa "cobalah untuk membuka hati" adalah nasihat yang sia-sia. Ketika kita belum klik dengan seseorang, percuma. Jika dipaksakan, pintu itu akan rusak dan tidak akan bisa terkunci lagi. The open door is never be good. Akan mengundang hati-hati terlarang di jalan panjang berliku ke depan.

Ya Tuhan.. Saya hanya bisa berdoa agar saya dijatuh cintai oleh orang yang saya juga jatuh hati padanya. The worst thing in life is to end up with someone who love us, but we don't love him the same way.

***

Gerbang tol Cikarang Utama mulai ramai pemudik. Arus balik belum sepenuhnya memadati jalan raya.

Saya masih menunggu dengan sabar, untuk satu cerita yang dijanjikan bagi saya. Saya yakin pasti akan indah dan membahagiakan. Doa saya selama ini hanyalah agar didatangi pasangan yang baik. Baik bagi saya, keluarga, karir dan agama.

Yang pasti akan membahagiakan saya dan semua orang yang telah menanti kehadirannya.

Seperti ketika meeting sore kemarin bersama tim project di kantor, dan ketika saya sedang memaparkan usulan dan strategi saya untuk menyiasati padatnya project dan sempitnya waktu, atasan saya terdiam, tersenyum dalam sikap kaku dan berkata pelan

"Siapa ya, yang nanti akan sama kamu, Ma".

Saya hanya bisa tertawa.

Ya. Saya pun bertanya-tanya.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …