Skip to main content

Potret Bogor Malam Hari dalam Benak Perempuan Mid-Twenties

Dengan perut kenyang dan hati senang, kami - saya, tante dan tiga orang sepupu- melangkah ke luar dari rumah makan. Kami menghabiskan masing-masing nasi satu porsi dengan menu berbeda, berbotol susu segar dan tumpukan roti coklat ketika melewati seorang bocah terduduk lemas di sudut parkiran.

Hati saya hancur demi mengetahui isi dompet di tas saya sudah menyisakan sedikit sekali uang cash. Tadi pun membayar makanan dengan kartu, karena saya jarang sekali membawa-bawa cash dalam jumlah besar kecuali sedang assessment ke luar kota.

Bocah lelaki itu bahkan tidak meminta-minta. Tangannya ditangkupkan ke kepala yang menunduk rapat seolah sedang sedih. Di sebelahnya terdapat sekarung besar gelas plastik bekas minum yang telah di bersihkan. Entah apa yang membuatnya sedih, yang jelas pemandangan itu kontras sekali. Rumah makan megah di kedua sisi jalan, mobil-mobil berjejer terparkir, dan anak-anak muda serta keluarga berpakaian rapi dan modern ke luar masuk bergantian. Bocah lelaki itu bahkan tidak mengemis. Tangannya ditangkupkan ke kepala yang menunduk rapat. Mungkinkah ia menangis?

***

Kepala saya masih memutar gambar bocah lelaki yang terduduk sedih di sudut parkiran ketika berjalan melewati jembatan penyeberangan.

Sengaja saya minta diturunkan di depan terminal karena saya masih harus menjemput motor yang terparkir setia. Tante saya pun bisa langsung berbelok ke kanan dan masuk tol untuk kembali ke rumahnya di Jati Asih, Bekasi.

Sebelum menjemput motor saya memutuskan untuk mampir sebentar ke Botani Square, demi membeli kabel HDMI untuk laptop saya. Huh, sudah tahu sering presentasi. Beli laptop malah gak sekalian beli kabel sambungan. Saya mengeluh dalam hati. Jalan kaki di Kota Bogor memang tidak menjadi sesuatu yang menakutkan, apalagi itu baru pukul sembilan malam.

Dari atas jembatan penyeberangan saya melihat kota yang masih teramat sibuk. Kendaraan lalu lalang tanpa kenal sepi. Hotel megah bersanding dengan Tugu Kujang menampilkan jam digital besar. 20.18 tertulis dengan lampu-lampu merah.

Kota kecil yang megah. Namun bocah kecil itu, dan masih banyak bocah kecil lainnya, masih belum bisa ikut menikmati kemegahan asing yang entah bisa teraih atau tidak.

Dalam hati saya berbisik.. Dek, jika kini kau perjuangkan pendidikanmu, kemegahan apapun itu pasti bisa kau raih. Hingga nanti kau bosan sendiri, dan justru ingin pulang kembali. Ke gang-gang sempit yang kau tempati, dulu sewaktu masih memunguti sampah plastik.

(Bahkan sambil menulis ini, hati saya masih teriris pedih, menyesal tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan menyerahkan selembar uang ribuan pun tidak). Ternyata benar bahwa you will regret on things that you didn't do, chance you didn't take.

***

Lantunan lagu Father and Son milik Cat Steven saya pilih untuk membuka perjalanan setelah menjemput motor di parkiran terminal yang sunyi sepi. Angin dingin berhembus seolah memberi kabar bahwa sebentar lagi akan hujan. Tidak banyak orang di parkiran, hanya satu-dua yang sibuk menghisap rokok dan tertawa berbincang.

Sepertinya moda transportasi bus sudah mulai kurang diminati semenjak kereta api sukses dibenahi.

Ya. Saya pun sama. Nampaknya ini kali terakhir saya menggunakan bus untuk pulang ke rumah eyang, setelah merasakan sulitnya mendapatkan bus jurusan Pamanukan, dan kemarin saya justru menumpang bus yang hanya sampai separuh perjalanan. Separuhnya lagi? Saya naik elf yang penuh penumpang sehingga saya harus berdiri (di mobil elf yang kecil itu) selama lima belas menit pertama, tanpa pegangan, pijakan kaki yang sempit, dan pintu terbuka. Tangan saya berkeringat setiap kali si supir menikung di tikungan tajam, tanpa saya bisa menggenggam sesuatu yang benar bisa jadi pegangan kecuali jok mobil yang lusuh dan lengket. Jijik. Lima belas menit terlama dalam perjalanan saya.

Setelah ini sepertinya saya akan pulang ke rumah eyang dengan menyewa mobil rentalan, sehingga bisa ditempuh dengan satu hari perjalanan pulang pergi. Dengan begitu saya bisa lebih sering menengok eyang, tanpa perlu menginap dan bersusah payah melawan pengamen yang marah karena tidak diberi uang untuk nyanyiannya yang tidak tentu arah.

***
🎧
It's not time, to make a change
Just relax, take it easy
You're still young, that's your fault
There's so much you have to learn

Lirik itu mendayu membawa saya menuruni jalan yang dulu ramai penjual. Waktu kecil saya pernah membeli kelinci disitu. Sekarang sudah 'rapi tertata', menurut bahasa pemerintah. Entah pedagang itu dipindahkan kemana, kita pun tidak peduli kini karena jalanan lebih lengang, macet lebih jarang, dan membeli kelinci bisa di pet shop.

Gambar bocah yang duduk di samping karung plastik berisikan gelas plastik tadi masih menghantui pikiran saya. Menyesal karena tidak bisa mengulurkan tangan hanya karena alasan sepele. Misal saya berbalik membelikan makanan atau sekedar sebotol susu dan membayar dengan kartu, pun saya masih bisa ikut membantu. Tapi tidak saya lakukan karena saya terlalu terburu- buru ingin cepat sampai di rumah dan sekaligus tidak ingin membiarkan tante saya terjebak terlalu lama.

🎧
Find a girl, settle down
If you want you can marry, look at me
I am old,  but I'm happy

Menikah? Saya tidak terpikir untuk menikah sampai kakek nenek saya mendesak dengan membawa-bawa umurnya yang entah akan sampai kapan lagi kuat bertahan.

Saya menjadi sedih melihat eyang yang sudah tidak semangat makan, usianya kini mencapai delapan puluh tahun April kemarin (he's a Taurean, and all of a sudden, his stubbornness does make sense). Usia itu adalah usia Oma saat menutup mata untuk terakhir kali. Saat saya menjalani tahun pertama perkuliahan.. Yang saya takutkan hanya satu.. Sebelum mereka berpisah dari dunia ini, keinginan terbesar mereka belum juga terwujud: melihat cucu tertuanya menikah dan punya anak.

Oma pergi, sudah diiringi oleh dua puluh cucu yang sempat bertemu muka dengannya. Beberapa malah sudah memberikan cicit dan Oma sempat menyaksikan itu semua.

Eyang?

Harapan eyang hanya ada pada saya. Tapi saya... Berarti saya harus lebih giat lagi berdoa. Demi seseorang yang baik dan membahagiakan bagi semua orang yang menanti-nanti.

🎧
I was once like you are now, and I know that it's not easy To be calm when you've found something going on But take your time, think a lot Why, think of everything you've got For you will still be here tomorrow But your dreams may not

Bocah lelaki tadi, apa yang membuat nya sedih? Punyakah ia tentang mimpi masa depan? Adakah cita-cita yang ingin di raihnya?

Ada berapa banyak bocah lelaki yang seperti itu di kota ini?

Ah lagi-lagi saya sedih. Karena niat baik membantu di Panti Asuhan yang saya gawangi kemarin salah sasaran. Mereka bukan Islam rupanya. Saya pun tidak masalah jika mereka bukan Islam, hanya kepura-puraannya yang membuat saya menyesal. Padahal jika dilihat, mereka bukan panti asuhan yang butuh bantuan. Mereka butuh anak murid untuk dibimbing. Menjadi benih-benih pembelot yang akan menjauhkan orang Islam dari ajarannya sendiri.

***

Jalanan masih padat ketika saya lewat pukul  sembilan malam. Ramai angkot, mobil dan motor memenuhi jalan dengan klakson dan kemarahan.

Woi macet!! Teriak seorang pengemudi mobil pada angkot yang berhenti di tengah jalan. Saya yang masih memutar Cat Steven dalam mode single repeat mengantri dengan tenang. Untuk apa marah kalau angkot itu berhenti bukan atas kehendaknya. Penumpang yang di dalam minta diberhentikan. Sekaligus ada penumpang yang juga ingin ikut masuk menggantikan penumpang yang keluar. Antrian musti cukup lama dan marah tidak akan mempercepat proses itu.

Setelah melewati titik itu saya bisa memacu sepeda motor kencang. Menyalip lincah satu dua mobil yang berjalan pelan. Hanya untuk mendapati perumahan yang gelap total. Listrik padam.

Sial. Batin saya merutuk dalam hati. Akhirnya saya kesal. Sabar yang sudah saya pelihara, sedikit hilang kendali karena air di bak penampungan pun tidak cukup banyak untuk saya menenangkan diri.

Tarif listrik naik sejak lama, dikeluhkan sebagian besar ibu rumah tangga. Tapi perbaikan kinerja dianggap tak ada. Huh sama saja, begitu dengus setiap pengguna jasa.

Jomplang. Timpang. Bukan main luasnya gap antara si miskin dan si kaya di negeri ini. Yang mestinya bisa disyukuri karena itu pertanda kiamat masih jauh.

Ya, saya percaya pada buku hadits yang saya baca (punya papa), bahwa tanda kiamat selain berkurangnya jumlah laki-laki, juga berkurang jumlah penduduk miskin. Di akhir zaman kelak, orang-orang berebut untuk saling memberi harta kekayaan, karena kaya harta luar biasa.

Al-Quran mengandung banyak sekali janji after life. Untuk orang-orang yang hanya mengejar dunia, akan berakhir di api neraka yang siksanya pedih tak terbayangkan. Sedangkan mereka yang turut berjuang untuk akhirat, akan diberi nikmat luar biasa yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya (ada ayat dalam Al-Quran yang menggunakan Salsabil sebagai sumber mata air/sungai tapi tidak pernah digunakan di bahasa selain Al Quran. Sehingga sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa itu adalah perumpamaan bagi Allah untuk menunjukkan bahwa ada keindahan yang tidak akan bisa dilihat di bumi, melainkan di surga saja).

Apapun yang sedang bocah lelaki tadi risaukan, saya kini hanya bisa mendoakan. Semoga yang ia jalankan adalah ikhlas dan karena ridho-Nya. Agar kelak ia diberi petunjuk, untuk bisa bermanfaat di jalan-Nya. Meskipun ia miskin harta, namun ia kaya akan kebaikan dan kebaikan yang membawanya pada kebahagiaan yang kekal.

***

My heart is at peace knowing that we can pray for someone and its the best thing that ever happened for us and them.

So please be kind to anyone. To whoever you've ever met. Because we never know who will pray for us, and whose pray will help us in a difficult situation.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …