Skip to main content

Pada Sebuah Perjalanan

"Lu masih mau jalan? Gue naik bis!" Ancam teman seperjalanan saya, saat kami tiba di destinasi ke dua dari total tujuh destinasi di Asia-Tenggara. Dia kesal sebab saya terus menerus berjalan kaki, dan entah sudah berapa kilometer yang kami tempuh mulai dari penginapan di dekat Rama Bridge hingga Wat Pho  di Bangkok.

Saat itu pilihan untuk jalan kaki memang seperti satu-satunya bagi saya. Budget yang saya bawa untuk keliling lima negara sangat pas-pasan. Saya harus mengirit tabungan selama enam bulan dengan bekerja di studio film dokumenter agar bisa membeli tiket pulang. Saat itu ayah yang membelikan tiket berangkat, selebihnya saya tidak berani lagi meminta tambahan.

Ketika teman saya meloncat ke dalam bis, saya pun ikut masuk. Sebetulnya ongkos perjalanan pulang kami tidak mahal, hanya 11 baht atau sekitar lima ribu rupiah. Sangat tidak mahal. Tapi saya lebih memilih jalan kaki, kalau saja teman saya tidak protes.

Keesokan harinya, kami mulai berpencar. Sama-sama menolak untuk berjalan beriringan. Kami mengeksplor masing-masing sesuai tujuan masing-masing. Saya menuju Wat Arun, menaiki anak tangganya yang kecil-kecil dan tinggi sekali, menyeberang Sungai Chao Praya, dan.. yah berjalan kaki ke setiap pojok kota Bangkok yang bisa saya raih. Sempat saya terpikir, mungkin keterbatasan budget untuk jalan-jalan seperti ini tidak akan berlangsung seterusnya. Siapa tahu dua atau lima tahun lagi saya sudah tidak bisa lagi berjalan kaki, dan sudah tidak perlu juga menghitung setiap koin.

Disinilah saya hari ini, tiga tahun lepas dari petualangan itu. Masih memilih berjalan kaki menyusuri sepanjang jalanan tanpa trotoar - dan ber trotoar - di Kota Surakarta.

***

"Tahun lalu nginap di backpacker-house yang harga sewanya per-bed, tahun ini.. nginap di atas INDOMARET!! Hahaha" Tawa kami pecah saat turun dari angkutan travel Jogja-Semarang. Tertawa-tawa mengangkut koper besar yang saya bawa melalui tangga sempit seukuran satu badan persis di sebelah tembok minimarket biru itu. Saat itu sudah gelap, sudah tidak ada waktu tersisa untuk eksplore. Kami berjanji untuk saling membangunkan pagi harinya, agar bisa mengeksplore lebih banyak dengan waktu yang terbatas.

"Sampai nanti ya, kita nginepnya bukan lagi di hostel-backpacker house-macam begini lagi. Novotel gitu, kayak penumpang-penumpang travel tadi! Hahaha" Masih tertawa seraya membuka pintu kamar masing-masing. Tawa lebih besar meledak ketika mendapati perbedaan mencolok antara kamar saya - yang didapat dengan harga normal - dan kamar teman saya - yang di dapat dari harga promo-. Tidak habis tawa mengingat kejadian turun dari travel tadi, ketika setiap penumpang ditanya hendak turun di mana, dan semua menjawab dengan nama-nama hotel berkelas, kecuali kami berdua yang dengan semangat berseru : "Lawang Sewu!!" sebelum sadar bahwa jawaban itu bisa saja menimbulkan kesan kami berdua akan menginap di sana malam itu.

Memang, satu tahun semenjak gurauan itu saya sudah berhenti mencari hostel untuk berlibur. Bahkan dua tahun kemudian, saya sempat terpikir untuk menginap di hotel yang disebut-sebut dengan alasan akses. Namun urung karena masih terlalu mahal, pikir saya. Pemilihan tempat menginap saat ini tidak lagi serumit dulu ketika saya harus benar-benar jeli membandingkan satu persatu unit yang ditawarkan.

Waktu yang bergulir mampu merubah apapun, selama kita yakin akan hal itu. Saya selalu yakin pada masa-masa sulit antara memenuhi keinginan yang meledak-ledak dan keterbatasan kemampuan, pasti akan ada jalan keluar dimana saya tidak lagi harus bersusah payah untuk memuaskan keinginan-keinginan terpendam.

Ketika saya sudah berada pada tahap dimana setiap keinginan bisa saya wujudkan, saya justru mengambil langkah mundur. Berpikir keras bagaimana caranya untuk menghentikan ini semua. Karena sebanyak apapun uang yang saya hasilkan, sekeras apapun saya bekerja, semua tidak akan cukup kalau saya terus menerus memuaskan keinginan dan mengedepankan ego.

Minimalism, memilih hal-hal hanya pada dasar kebutuhan, dan hanya pada apa yang membuat kita senang, menjadi metode jitu saya memilih penginapan kali ini. Sebelum memulai pencarian, saya terlebih dahulu menentukan kriteria liburan kali ini: tenang, istirahat, dan spark joy. Untuk itu pemilihan destinasi pun tidak lagi muluk-muluk seperti biasanya, ingin menjelajah semua tempat dengan waktu terbatas. Kali ini saya hanya ingin menyambangi satu dua tempat, selebihnya istirahat seperti biasa. Seolah sedang di rumah, tetapi dengan suasana seratus persen baru. Saya ingin menikmati jerih payah saya selama ini, tanpa harus mendengar komentar/opini orang lain tentang saya.

Pilihan jatuh pada hotel yang dekat lokasinya dengan destinasi utama saya yang sederhana. Hotel ini pun sebetulnya sederhana, namun cocok dengan semua kriteria yang saya tentukan: bernuansa Jawa, tidak terlalu modern tetapi rapi dan bersih, dekat dengan Taman Sriwedari (sebagai destinasi utama), dan sebagai bonus, hotel ini dihiasi bebungaan yang manis-manis sekali. Tidak tahan saya untuk memotret satu demi satu desain khas vintage-modern yang sedang saya gandrungi saat ini.

***

Mungkin segala urusan pun harusnya seperti itu. Mengedepankan kebutuhan, bukan keinginan. Jika dari skala satu sampai sepuluh keinginan ada di level delapan, sebetulnya kebutuhan justru adanya di level dua. Memenuhi kebutuhan tidak akan se-stress memenuhi keinginan. Selebihnya hanya akan menguras tenaga, waktu, dan kebahagiaan pada hal yang tidak akan berlangsung lama.

Perjalanan kali ini seolah sebagai sebuah langkah mundur bagi saya. Menarik diri kebelakang, restoring my energy. Mungkin saya sudah terlalu lupa pada hal-hal yang menjadi fokus utama sehingga saya terombang ambing tanpa tujuan. Kemana arus membawa saya ikut, seperti ikan mati yang tidak ingin menjadi bangkai.

Terlanjur mencintai pekerjaan pun kadang membuat lupa akan hal-hal yang sudah sewajarnya menjadi kewajiban. Mungkin begitupun dengan pekerjaan, butuh definisi yang tepat agar jelas path nya, apa yang bisa dan tidak bisa kita lakukan.

***
Sore tadi, seusai menyelesaikan satu putaran rute yang berakhir di Pasar Antik Triwindu, saya ditawari Jenang Suran, sebuah makanan dibungkus daun pisang yang dibagikan gratis dalam rangka menjelang 1 Muharram, (atau sebutnya disini; 1 Suro). Nasi yang telah menjadi bubur, di taburi kacang berwarna hitam (maafkan sarjana pertanian yang pengetahuan pertaniannya terbatas seperti saya ini), telur, kentang, dan kikil. Meskipun saya kurang suka jenis makanan terakhir, demi melihat kemasan dan cara penataannya yang apik, mungil dan lucu, maka saya menyerah pada tawaran sekuriti penjaga pasar bersama istrinya itu.

Duduk lesehan bersama mereka sambil menikmati-mungkin seporsi terakhir- dari Jenang Suran. Sudah satu jam lewat, dan makanan sudah habis dibagikan. Tadinya ada doa bersama, begitu kata mereka. Tidak jauh dari tempat itu, di Istana Mangkunegaran, orang-orang sudah sibuk bersiap melakukan ritual tahunan. Mengeluarkan seluruh benda pusaka di dalam Istana sekaligus untuk dibersihkan.

Mestinya saya tertarik untuk menyaksikan tradisi tersebut, tapi entah apa yang menarik saya untuk kembali ke hotel, laptop dan menulis tulisan ini. Yah, bisa jadi karena di dalam pekerjaan saya diharuskan menyaksikan ritual-ritual seperti itu, dan saya menginginkan suasana benar-benar berbeda dari apa yang biasa saya lakukan. Once people do something for a living, it's hard to them to do the same thing for free. Pernah lihat pelawak tetap melawak di rumahnya? Well, 

***
Semakin seseorang melakukan perjalanan, semakin banyak ia melihat dan mendengar. Semakin ia memahami situasi, dan tindak tanduk orang lain. Semakin kita mengerti, semakin sedikit kita menghakimi. Karena kita tahu dan mampu membaca alasan-alasan tersembunyi.

Tapi tidak semua perjalanan mampu mengubah cara pandang seseorang. Tidak semua orang mampu menerjemahkan kode-kode pembelajaran yang disampaikan dalam perjalanan. Untuk itu saya selalu menyelipkan gumaman, yang ternyata juga adalah doa, agar bisa diberi kemampuan sedikit lebih banyak untuk bisa membaca, menerjemahkan, dan menularkan pada sebanyak-banyaknya manusia. Karena saya hanya ingin bermanfaat, agar bisa pergi dengan tenang, berharap saat pergi itulah saat tugas saya sudah selesai. Hanya Dia yang punya kemampuan dan kecerdasan itu. Hanya Dia jugalah yang sanggup memberikan kemampuan itu pada saya, kamu, dan siapapun yang meminta.

Untuk itu pada sebuah perjalanan, jika bahagia yang kita cari, jangan pernah lupa untuk terus membumi. Merendahkan diri di depan Sang Maha Perencana, meminta untuk terus diberi kemampuan membaca kode-kode semesta. Agar kelak kita bisa mengambil keputusan-keputusan penting, yang merubah keseluruhan hidup kita.

Perjalanan tidak selalu harus dengan berlibur dan pergi ke tempat yang jauh.
Bahkan dalam keseharian pergi ke kantor, ada perjalanan yang penuh kode dan isyarat yang bisa dibaca.

Agar kita tetap bisa tenang, menghadapi dunia yang kian menuju perang.


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …