Skip to main content

Hari Kesaktian Pancasila

Sengaja saya tulis sebagai judul, agar lugas menerangkan bahwa hari itu adalah istimewa.

Dunia merayakan pergantian bulan dan Indonesia merayakan hari kesaktian lambang negaranya, tepat pada tanggal yang sama: 1 Oktober.

Selain angkanya yang cantik, 110 - 1 Oktober menjadi istimewa karena diperingati sebagai hari bangkitnya semangat Pancasilais membela negara, mungkin setelah sekian lama tertidur, entahlah. Pemicunya sedang menjadi bahan perdebatan, saat ini. Gerakan pemberontakan, yang disebut-sebut tidak lebih keji daripada apa yang negara sudah lakukan.

Sudahlah, saya tidak ingin ikut-ikutan berkecimpung dalam perdebatan tanpa ujung seperti itu. Bukan karena tidak penting, tapi karena saya sudah tau dimana harus berpijak. Dan jika orang lain berpendapat berbeda, kenapa harus saya paksakan keyakinan saya.

***

Hari Kesaktian Pancasila. Istimewa, meskipun aneh bagi saya, karena dari tiga ratus enam puluh lima hari hanya ada dua hari yang bisa membuat saya ingat akan kontribusi yang masih nihil pada negara: Hari Kemerdekaan, dan Hari Kesaktian Pancasila.

Setelah itu? Ya kembali seperti hari-hari biasa, dikejar klien, menulis laporan, menyusun rencana kegiatan, mengontak konsultan, sesekali diselingi meeting di dalam dan luar kota, dan pulang pergi menyambangi bandara demi bandara. Klasik. Standar. Sama.

Hanya pada dua hari yang istimewa itulah saya bisa merenungi diri, akan manfaat apa yang sudah beri. Selain membayar pajak setiap bulan tentunya. Hah.

Renungan yang selalu berujung pada renungan-renungan lain yang tidak ada solusi. Begitu terus setiap tahun, sampai saya bosan sendiri. Atau jangan-jangan saya memang dilahirkan untuk membantu orang lain memaknai hidupnya, karena saya tidak punya makna itu untuk saya sendiri? Pernah terlintas pikiran serupa itu. Entahlah. Mungkin saja. Yaaa kalaupun iya.. Ya saya ikhlas.

Mungkin memang saya tidak dilahirkan untuk bisa berkontribusi besar dan signifikan. Yang hasilnya bisa bermanfaat tujuh turunan. Atau yang bisa mempengaruhi banyak orang.

Mungkin.

Dan besok.. Adalah Hari Kesaktian Pancasila yang akan banyak diperingati dengan lambang-lambang garuda dan anti PKI. Mungkin. Mungkin juga saya justru tidak punya waktu untuk merenung seperti tahun tahun sebelum, karena ada pesta besar yang harus saya hadiri dan setelahnya ada tamu besar yang harus saya temui, sebelum berkemas dan kembali terbang menuju pulau lain.

***

Sadar bahwa Indonesia ini amat beragam. Pencipta lambang Pancasila dengan simbol-simbolnya yang sangat Indonesia, pastilah seorang cerdas luar biasa. Beragam suku, ragam bahasa, watak dan karakter. Bukan mudah menyatukan orang-orang itu dalam satu bentuk kenegaraan. Apalagi yang disebut bebas berpendapat. Semua orang ingin didengar, mendengar pun agar setelahnya ia didengar. Bukan ingin mendengar agar bisa memahami. Bukan.

Kita sebut Pancasila kita sakti, dan kita bangga akan perbedaan, tapi kanan dan kiri kita pisahkan seolah jika golongan kiri tidak bisa bergaul dengan golongan kanan, dan sebaliknya. Namun kita mengaku sakti, dibawah naungan Pancasila.

Kita menghormati perbedaan ras dan agama. Sebutnya tolerir jika ada orang sembahyang dengan nyanyiannya, dan orang lain yang berbeda keyakinan ikut menyanyikan kidung syahdu. Tapi begitu ada profesi berbeda, berlawanan sebut saja, langsung dimusuhi dengan embel-embel kapitalis. Ah! Abang sudah musuh sekarang! Sudah jadi orang perusahaan, aku tidak mau ketemu abang!

Sebutnya kita hebat dalam kemajemukan, namun terus menerus menuntut kesetaraan. Perempuan harus sama setara dengan laki-laki, padahal adat tradisi mengajarkan bahwa derajat, hak dan kewajiban masing-masing berbeda tuk saling mengisi.

Bintang sebagai simbol Tuhan Yang Satu, menjadi sumber untuk berseteru. Siapa yang paling benar dengan mengusung ayat-ayat tanpa ragu. Berbeda keyakinan bukan soal kini, karena keyakinan yang sama lah yang paling nyaring sahut menyahut.

Rantai sebagai lambang bagi keadilan yang beradab, menjadi tali pengekang bagi siapapun yang ingin mencoba untuk meluruskan dan memulihkan perdamaian. Tidak ada damai jika tidak adil. Dan tidak ada adil jika tidak sama. Sedangkan sama, bukanlah setara. Ada mata rantai yang terputus setiap kali seseorang meneriakkan hak-hak yang seharusnya ia peroleh: yaitu kewajiban yang seharusnya ia kerjakan. (Saya bisa bilang saya ragu pada segelintir aktivis yang paling keras teriakannya memprotes negara, beberapa mungkin tidak bayar pajak penghasilan karena berada di luar ranah legal. To be frank,)

Pohon Beringin, yang seharusnya membunyikan persatuan Indonesia, malah menjadi tempat sembunyi. Eh tapi kemana perginya yang sembunyi? Oh sudah hilang.. Kenapa hilang? Karena tempat sembunyinya juga habis ditebang. Kalau begitu ayo adakan penanaman! Tunggu dulu, baiknya saya undang media massa agar melakukan liputan. Seusai berpanasan, menanam dan mencangkul dibawah naungan kamera, tidak jadi soal apakah tanaman itu akan tumbuh besar atau sengsara kehabisan hara. Yang penting saya sudah berkontribusi  dan membawa segelintir sakti.

Kepala banteng hitam berlatar merah, persis seperti foto identitas segenap penduduk Indonesia, yang dana nya ikut diciduk sang penguasa. Tapi apakah banteng itu akan menyeruduk mereka yang bersalah? Karena poin ini menyerukan kebijaksanaan dan permusyawaratan? Ataukah justru banteng ini, melindungi mereka yang menghalau kebijaksanaan permusyawaratan? Bisa saja kan. Orang bilang ini jaman sudah dibolak balik. Laki-laki bisa mencintai sesama laki-laki. Cucu bisa membunuh kakeknya sendiri. Ya siapa sangka banteng bisa menyeruduk kebenarannya sendiri.

Padi dan kapas, keadilan sosial yang mengharuskan semua makan nasi. Bahkan yang tadinya makan sagu, pun harus menebang habis pohon sagunya untuk diganti menjadi kelapa sawit. Loh kok sawit? Ya, karena padi tidak bisa tumbuh di tempat itu, hanya sawit yang bisa. Ketimbang ditanam sagu yang sepuluh tahun baru panen, lebih baik tanam sawit, tiga tahun sudah mulai menghasilkan. Pangsa pasar jelas dan demand terus bertambah, thanks to the population. Tidak apa-apa sawit ditanam sebanyak-banyaknya, kan ada sertifikat yang menjamin produk aman. Meskipun boleh jadi sertifikat itu hanyalah alat pengontrol dan rem agar negara kita ya begini-begini saja. Jangan sampai jadi digdaya, berjaya dengan minyak nabati. Kalau sampai terjadi  bisa bubar jalan produk industri belahan bumi sana.

***

Kita sakti, jika kita berpikir kita sakti.
Optimis berteriak kesaktian, yang nyatanya.. Kita ini sedang kesakitan.

Entah kapan akan sembuhnya, atau entah akan sembuh atau tidak.
Sampai mereka benar-benar mendengar satu sama lain.
Sampai yang bersuara paling keras dalam ruang sidang perumusan mau sejenak membenarkan letak duduk dan berganti menjadi pendengar.

Sampai..
Sampai ego bisa semua kendalikan, seperti yang kita kerjakan setiap bulan Ramadhan.

***

Cepat sembuh, Garuda-ku. Agar kelak tidak ada lagi perseteruan kecil printil yang mengganggu. Dan kita bisa lebih fokus membahas, mendebat dan mendiskusi, tentang apa yang bisa kita tunjukkan pada dunia, dari negara paling majemuk dan unik di muka Bumi.

***

Bogor, 30 September 2017. 23:30, 30 menit sebelum 1-10

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert