Skip to main content

A Tireless World, Inside your Bagage

Seorang petugas duduk di pintu penghubung kereta. Kepalanya tertunduk, dengan tangan dikalungkan di atas kepala. Ketika saya datang, hendak ke toilet, ia mengangkat wajahnya. Ekspresinya seolah mengisyaratkan bahwa toilet itu kosong. sambil mengangguk saya masuk tanpa berkata apa-apa lagi. Petugas itu sudah beranjak dari duduknya begitu saya keluar. Stasiun berikut, dan ia bergegas menunaikan tugasnya. entah apa itu.

***

Ekspresi seperti itu kerap saya lihat dimana-mana. Di kereta, di jalan, anak muda, orang dewasa, anak kecil.. Sampai sekarang saya masih terngiang pada seorang anak kecil yang duduk sambil memegangi kepalanya di dekat restaurant megah dan mewah.

Saya masih ingat betul wajah petugas tadi. Matanya merah, ekspresinya lelah. Wajar jika lelah, jam sudah menunjukkan pukul sebelas lebih empat puluh. Sebagian besar penumpang sudah terlelap.

***

Apa yang kini saya pahami, adalah bahwa setiap orang membawa 'baggage' nya masing-masing. ada yang berat, ada yang ringan. Tapi tidak ada satupun yang sepele. Seringkali dengan mudahnya teknologi memunculkan jati diri kita yang sebenarnya, orang menjadi tidak terlalu peduli lagi pada urusan orang lain.

Aku
Aku
Aku..

Bahkan pada orang yang amat pendengar sekalipun, seringkali menghubungkan masalah yang sedang diceritakan padanya dengan pengalaman pribadinya sendiri. seolah ingin berkata "I have been through worse, you'll be okay" sekaligus mengesankan bahwa tidak ada masalah yang lebih berat ketimbang masalahnya.

Itu dia.

Setiap orang selalu merasa masalahnya paling berat sehingga ia tidak perlu repot-repot berempati. Orang lain tidak punya masalah sebesar dan sesignifikan dia.

Masalah saya menyangkut pekerjaan, yang jika gagal akan menyebabkan seseorang kehilangan pekerjaan. Masalah kamu hanya urusan tulis menulis penelitian, yang jika selesai pun belum tentu ada yang baca.

Ego.

Masalah saya menyangkut tulis menulis penelitian, yang jika saya gagal saya terancam mengulang di tahun berikutnya. Artinya saya akan menghabiskan uang orangtua lebih banyak lagi, untuk itu penting bagi saya untuk lulus. Inilah yang terberat karena dosen tidak begitu kooperatif hendak meluluskan saya padahal metode saya adalah yang tercanggih di antara yang lain. Masalahmu hanya soal kerjaan, dan pekerjaan tidak akan ada habisnya bahkan sampai akhir hayat. Jadi itu sudah biasa.

Ego.

Menganggap Maha Penting pada urusan sendiri, dan menganggap rendah urusan orang lain.

Padahal..
Besar kecilnya suatu masalah tidak bisa diukur dari kapasitas orang satu dengan yang lain. Seseorang tidak bisa mengukur sepatu orang dengan ukuran kakinya sendiri. Tidak sama.

Cinta, keuangan, keluarga  pekerjaan, lingkungan sosial, apalagi sih yang menjadi kerumitan dalam hidup manusia? Pasti berputar di seputaran itu. Dan semua orang pasti punya setiap bagian dari lima persoalan pokok tadi, meski dengan kadar berbeda.

***

Kita sudah terlalu lama lupa caranya ber simpati, sehingga kita terlalu banyak bicara tentang diri sendiri. Mendengar menjadi amat menjemukan. Terlebih jika yang didengar tidak kunjung selesai bercerita.

Kenapa tidak kunjung selesai bercerita? Karena tidak memikirkan posisi pendengar, tidak berusaha memahami apa yang ingin dia dengar. Kenapa dia bertanya hal demikian. Sibuk sekali menampilkan sosoknya yang penuh masalah. Lupa bahwa si pendengar pun punya masalah.

***

A man with no home, carries much baggage.

***

Sampai saatnya nanti, saya ingin menjadi pribadi yang bisa tenang dan lengkap dengan diri sendiri. So I can comfort my husband. Harus utuh, berdiri sendiri. Seseorang harus punya sistem ketenangan yang bisa di ciptakan sendiri, tanpa bergantung pada teman, telepon, apalagi media sosial.

Disitulah ketika Kitab Suci come in handy.

Untuk menjadi utuh, saya harus mulai dengan mengenal diri sendiri. Mengenal siapa dan bagaimana saya selama ini. Tentu tidak menyenangkan mengingat, memutar kembali memori masa lalu yang biasanya memalukan. Tapi justru itulah harus diputar agar ingat kesalahan mana yang boleh dan tidak boleh diulang. Dan juga agar tetap ingat siapa saja orang yang bersedia melalui fase buruk itu bersama kita.

Tidak mudah menciptakan ketenangan sendiri. Apalagi di tengah lingkungan yang serba menular. Energi negatif kini ada dimana-mana. Jika tidak pintar-memilah, maka inner peace hanyalah isapan jempol belaka.

Karena pada saatnya nanti perempuan akan menjadi 'rumah' bagi keluarganya. Anak akan bergantung pada ibunya. Suami bergantung pada istrinya. Ibu akan menjadi sumber kehidupan bagi siapapun dalam dekapnya.

Seorang perempuan harus sudah 'selesai' dengan dirinya sebelum memutuskan untuk menerima pasangan. Karena kita - perempuan - bukan separuh jiwa. Kita tidak separuh, kita lah utuh. Pendamping akan mendampingi, menguatkan agar langkah kita bisa lebih jauh. Benar apa yang disampaikan oleh bapak-bapak klien di Sumatera Utara sana, berdua boleh jadi lebih baik. Jika kita saja sudah merasa baik dengan diri sendiri, apalagi jika ada pasangan yang menguatkan.

Ketika energi itu kita bagi, luar biasa efeknya.

Kita harus utuh, karena kita tidak pernah tahu seberapa lama pasangan akan berada di samping kita. Apa jadinya menjalani sisa hidup dengan pincang.

Sedangkan laki-laki memang diciptakan utuh. Adam berbeda dengan Hawa yang memang diutus untuk menemani. Kita berbeda dengan Hawa yang sudah tahu pasti siapa yang harus ia temani.

Kita masih harus berproses, memilih, menunggu, dipilih, menerima, tapi tidak akan pernah mencari. Dalam proses itulah perempuan dituntut untuk menyempurnakan dirinya.

Jangan meminta pasangan untuk menerima kita apa adanya. Teruslah berusaha untuk selalu meningkatkan kapasitas, meningkatkan kemampuan dan menjadi kebanggaan.

Begitu bunyi nasehat penceramah perempuan pada calon pengantin satu minggu yang lalu.

***

Kita semua punya baggage yang kita bawa sejak kecil. Laki-laki, mungkin punya baggage lebih berat dari yang perempuan bawa. Akan lebih baik jika perempuan punya baggage yang lebih sedikit dari laki-laki, agar bisa turut membantu membawa bawaannya. Memperingan suasana hatinya. Menenangkan dan menentramkan jiwanya.

Apa itu baggage?

Masa lalu, cerita yang tidak selesai, kenangan yang selalu menghantui, beban pikiran akan mimpi yang tidak pernah tercapai, keinginan, ambisi, yang tidak pernah disiapkan jalan tujuannya..

Semua yang ada dalam pikiran  membebani dan tidak menghadirkan apa-apa adalah baggage to declutter.

A minimalist will eliminate all unnecessary belongings. Including dark pasts.

Merelakan, mengikhlaskan pergi. Muncul sebagai sebuah jiwa baru yang penuh ruang kosong, namun membahagiakan.

Kita semua pasti sedang berjalan menuju perubahan. Setiap hari adalah kesempatan baru untuk memulai. Jangan takut jika bertemu dengan kenalan lama, yang masih menilaimu sama. Jadikan dia sebagai tantangan untuk mu menunjukkan bahwa kita adalah seorang yang baru. Yang utuh dan tidak lagi separuh.

Ada banyak cara untuk mengeliminasi bawaan-bawaan dan menetralisir pikiran. Saya, dengan melakukan perjalanan sendirian. Memiliki waktu lebih banyak untuk berpikir dan berinteraksi dengan diri sendiri. Mengatur kembali tujuan yang hingga kini masih abstrak.

Mungkin orang lain tidak sama. Tidak perlu dengan bepergian cukup dengan kontemplasi kamar mandi. Atau di tengah macet ibu kota.

Eliminasi satu persatu, karena bawaan tidak akan pernah habis hingga kapanpun. Yang bisa dilakukan hanya mengurangi. Sedikit demi sedikit.

***

Menjadi pelukan yang dicari ketika masalah menghampiri.
Menjadi suara yang ingin didengar ketika orang tidak berhenti berbisik.
Menjadi hati yang nyaman tempat berpulang, ketika kenyataan tak sejalan harapan.

A woman with her world, is a lot whole story one will have no time to hear.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert