Skip to main content

The Foundation

Seorang wanita, at her forty, berkulit putih, hidung mancung, berwajah cantik ala peranakan Indonesia-Timur Tengah. Cerdas, berkarir mapan. Sangat diperhitungkan di bidangnya, dan disegani atasannya. Ia memilih hidup sendirian, tidak menikah apalagi punya anak. Sesuatu yang belakangan menjadi common padahal dulunya tabu.

***

Seorang pria, also at his forties, direktur sebuah majalah ternama. Namanya sering disebut-sebut sebagai salah satu aktifis-jurnalis lingkungan kawakan. Pendapatnya amat diperhitungkan. Soal postur jangan ditanya. Tinggi tegap, dan tegas. Memilih hidup sendirian, karena sering bepergian. Kecintaannya pada karir, membuat ia tidak peduli untuk desakan keluarga agar segera menjadi pendamping.

***

Ibu muda, masih berusia dua puluhan. Dulunya adalah mahasiswa cerdas luar biasa. Ia bahkan dapat beasiswa lanjutan karena lulus sebagai mahasiswa terbaik. Cantik, dengan mata yang selalu penuh antusias dan senyum yang tidak pernah lepas dari wajah. Memilih meninggalkan karir, menikah, dan tinggal di rumah bersama buah hati tercinta. Ia kerap disindir karena "hanya" menjadi seorang ibu rumah tangga padahal sekolah tinggi hingga pascasarjana.

***

Another woman, at her late thirties, menjalani pernikahan yang tidak ia cintai. Selalu merasa hidupnya dilalui bersama orang yang salah. Bahwa pilihannya tidak tepat. Bahwa keputusannya menikah bukan karena pilihan pribadi. Aral melintang itu datang baginya dalam bentuk laki-laki. Silih berganti. Cerita demi cerita yang selama ini ia harap bisa terjadi. Sedangkan sang suami? Hilang bersama sepi. Ia tidak bahagia. Ia tertekan dengan kehidupannya. Ia bertanya 'kenapa?' Namun tidak ada jawaban.

***

Semua cerita di atas, bukanlah fiktif belaka. Terjadi di sekitar kita, jika kita cukup peduli untuk menyapa. Selalu ada orang-orang yang bahagia atau menderita karena pilihannya. Bagi saya, semua itu adalah pelajaran nyata. Karena datang dari cerita yang dirangkum oleh waktu.

Saya tergolong orang yang bisa berteman dengan siapa saja. Pertemanan yang saya jalin sejak masa kuliah, tidak hanya sebatas pada teman sebaya dan senior beberapa tingkat di atas. Tapi sampai jauh di atas.. Sampai ada yang usianya lebih tua dari ibu saya.

Beberapa dari mereka kerap menceritakan masalah, termasuk soalan rumah tangga. Mereka hanya ingin didengarkan. Dan saya cukup ahli dalam urusan mendengarkan-tanpa memberi saran. Kecuali jika mereka meminta.

Semua cerita, semua pengalaman, semua membuat saya belajar. Belajar untuk tidak memutuskan sesuatu dengan sesaat. Belajar untuk tidak mengandalkan orang lain-termasuk suami- meskipun sudah menikah nanti. Dan belajar, betapa realita kehidupan setelah menikah, tidak semulus yang orang tua kita tampilkan, apalagi yang ditontonkan drama-romance.

***

Malam ini, setelah minggu yang panjang dan melelahkan tentang urusan-perkara-apapun itu yang membebani hati,.. Saya sampai pada kesimpulan bahwa...

Apapun yang kita pilih, apakah menikah muda, menikah setelah mapan, menikah saat meniti karir, atau tidak menikah sama sekali, adalah pilihan yang bisa kita pertanggungjawabkan. Pilihan yang diambil karena we feel content about the option. Pilihan yang dipilih karena kita tahu, bahwa inilah jalan yang kita mau...

Most of the women, or men in my age (millennials, gen Y), are now worried about their future. Either they will get married or not. Some long for it, and some avoid things to happen.

Obrolan yang biasa saya dapat pun biasanya hanya berputar antara 'kapan kita akan menikah' bagi yang belum menikah dan 'kapan kita akan berkarir' bagi yang belum berkarir.

Saya tidak pernah dan tidak ingin menjadi bagian dari obrolan yang itu-itu saja karena beberapa hanya akan mengeluhkan tentang betapa sulitnya menemukan orang yang pas.

Because waiting and longing for something to happen, is not real. It sucks happiness out of us. It'll lead to stress and be less productive.

***

Jika memang seseorang tidak ingin menikah, cukuplah ia bahagia dengan dirinya. tidak perlu 'menyombongkan' diri dengan keadaannya yg single dan happy. Tapi juga tidak perlu mengeluhkan tentang orang yang tidak pernah cocok dengannya.

Begitupun jika pada akhirnya memutuskan untuk menikah, maka perlu disadari bahwa keputusan untuk menikah pada saat itu ada di tangan kita sendiri. Bahwa keluarga meminta, memohon, memelas agar kita segera menikah, pada akhirnya keputusan final ada pada yang menjalankan. Jadi apapun cobaan yang dihadapi, harus diterima dengan sadar dan bukan malah menyalahkan situasi.

***

They said, the foundation of everything is a good family.

I said.. Bukankah sebuah good family juga membutuhkan pondasi yang kokoh?

***

Selama ini saya menganggap, kegagalan love life saya bersumber dari karma, when I call off the wedding with my five years date. Tetapi sekarang saya bisa bilang,

Saya bahagia mengambil keputusan itu. Saya belajar banyak semenjak kejadian-demi kejadian yang pernah membuat saya rapuh dan lelah. Hingga hari ini, saya sampai di titik ini, dengan semua pengalaman yang saya nikmati, adalah karena sebuah keputusan yang saya ambil dengan berani.

Resikonya besar, saya tahu itu. Saya kehilangan sebuah keluarga yang mungkin akan sempurna bagi saya. Saya menjadi family disappointment terutama bagi kakek dan nenek saya. Saya menjadi bahan omongan di kalangan teman-teman lama saya. Semua itu saya terima. Karena saya bahagia dengan pilihan saya.

Konsekuensinya kemudian saya terima dengan lapang. Karena saya tahu, there is always an end to every tunnel. Ada pelangi di ujung badai. Dan ada kemudahan di setiap kesulitan. Saat ini setelah dua kali the heart has been cracked and smashed down, I rise again. I am more happy and content with my self. Karena pukulan-pukulan itu, saya anggap sebagai balasan. Balasan karena sudah bersikap sangat egois dengan memilih career over marriage.

Karena tanpa itu,

Saya tidak akan belajar bagaimana rasanya memilih marriage over career. Saya tidak akan pernah mengerti the true destiny of a woman. Saya akan selalu menolak kenyataan bahwa perempuan hanya boleh di dapur, dan harus sempurna di situ. Dan saya akan selalu percaya bahwa perempuan boleh mengutamakan karir atas dasar kesetaraan hak.

Salah.

It takes three heart breaks, two years of running, and a huge piles of projects untuk saya menyadari bahwa tempat saya sejatinya adalah di dapur. Bahwa sehebat apapun saya kelak, saya tetaplah perempuan, yang harus selalu meninggikan laki-laki. Saya tetaplah perempuan yang akan menjadi ibu, madrasah bagi anak-anaknya. Saya akan menjadi panutan, mendidik generasi baru yang akan membawa separuh idealisme saya.

Yang tadinya saya berpikir.. Tidak mungkin saya menyerahkan karir yang sudah dibangun susah payah ini hanya untuk seorang laki-laki dan sebuah pernikahan, menjadi berpikir... Kenapa tidak?

***

Yakinlah bahwa tidak pernah ada pilihan yang salah. Pun menikah dengan orang yang salah, itu juga bukan pilihan yang salah. Tidak ada pilihan yang salah, yang ada hanya kuat atau lemahnya komitmen pada janji yang telah diukir sendiri.

Bahagia itu kita yang punya. Bahagia pun kita yang pilih. Jika 'pilihan yang salah' menjadikan kita tidak bahagia, maka jangan salahkan pilihan yang kita pilih. Salahkan diri sendiri. Kenapa sudah tahu salah, memilih untuk tidak bahagia pula.

***

Foundation of everything... Is commitment. To whatever choice you take.

***

Ada pesan dari satu lagu favorit saya belakangan ini..

It's not time to make a change
Just relax, take it easy
You're still young, that's your fault
There's so much you have to know
Find a girl, settle down
If you want you can marry
Look at me, I am old, but I'm happy

~Father and Son, Cat Steven

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …