Skip to main content

Spreading the Love

Apakah jahat jika saya katakan, kehancuran bumi itu niscaya? Satu hal yang paling pasti di atas seluruh ketidakpastian yang sering terjadi di muka bumi. Kita tidak akan pernah bisa menghentikan pemanasan global. Pun tidak bisa menghentikan industrialisasi yang mengeruk perut bumi hingga ke dasarnya.

Pada akhirnya bumi akan hancur. Gunung-gunung akan meletus bertebaran. Manusia akan lari tunggang langgang. Ibu yang sedang menyusui anaknya pun sampai akan lupa dengan anak yang sedang disusui. Sedahsyat itu kegemparan dan kerusakan yang akan terjadi. Setidaknya itulah yang dikatakan Kitab kami, Al-Quran.

***

Apa itu artinya kita berhak diam saja?
Tidak perlu berbuat apapun karena toh pasti akan sia-sia?

***

Dalam Al-Quran pun disebutkan, betapa mulianya orang-orang yang menunaikan kebaikan di atas bumi. Kebaikan yang diberi akan setimpal dengan kebaikan yang datang kembali. dalam bentuk dan rupa berbeda.

Manusia didorong untuk terus memupuk, memelihara dan merawat bumi serta seisinya. Sayang menyayangi agar saling menjaga.

Saya rasa semua agama mengajarkan hal itu. Kebaikan yang tanpa batas.

Meskipun kerusakan adalah niscaya, tetapi jika diiringi dengan kebaikan, maka yakinlah bahwa kelak ketika tiba waktunya, kita bukan termasuk golongan orang yang menyesal. Menyesal karena merasa tidak pernah berbuat apapun untuk bumi apalagi manusia. Setidaknya, ketika kita pergi nanti, kita akan pergi dengan bangga.

Bahwa dulu, pernah pada suatu masa, kita ada disana.. Berupaya dengan maksimal, untuk bisa menjaga apa yang sudah dipercayakan pada kita.

***

Selamat pagi, Selamat kembali Senin.
Spread the love and positivity. It will return to us in a very unexpected way.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert