Skip to main content

Sorry, We Have No Room for Negativity

Simplify life with minimalism means more room, more space. But not negativity!

Tidak ada hal positif yang bisa tumbuh dari jiwa dan pikiran yang negatif. As everything in this world always has two side: positive and negative, we can always point the flaw or.. we can always make it better.

Orang yang negatif tidak akan pernah bisa menemukan damai di dalam hatinya. Dia akan selalu merasa segala nya salah. Segalanya berjalan tidak sesuai yang diinginkan. Dia tidak mau menerima bahwa alam punya cara sendiri untuk bekerja, sehingga ketika menghadapi suatu masalah, mereka akan sibuk menyalahkan orang lain dan keadaan.

Orang negatif selalu suka play victim. Mereka berbuat seolah-olah apapun yang dilakukan orang lain merugikan mereka, tapi mereka terima dengan lapang dada (menurut mereka).

Sayangnya, kita tidak bisa memilih dengan siapa kita bekerja. Ketika orang negatif harus menjadi rekan kerja kita, there is no way to escape but to deal with that. Untuk itu inner peace menjadi penting sekali sebagai bekal dalam menjaga keutuhan harmoni. Sekali saja orang negatif mematahkan lapis harmoni, Bham! Rusak mood sebelanga.

***

Pilihan terakhir saya ketika harus dealing dengan negativity, adalah memperbanyak diam. Saya Arian. Saya sulit menyembunyikan ekspresi rasa tidak suka, jadi saya memilih diam dan mengambil jarak. Sikap itu juga yang tidak disukai oleh orang negatif, karena mereka cenderung curigaan dan posesif. Ketika ada sesuatu yang berubah, disitu mereka merasa tidak lagi diterima.

Serba salah memang, kalau berhadapan dengan orang negatif. Semua pilihan dan keputusan yang kita ambil pasti selalu saja ada cacat dan dia selalu mampu menunjukkan cacat itu bahkan di depan semua orang.

Yang tidak disadari oleh orang negatif adalah.. Menjatuhkan seseorang dihadapan orang lain, itu sama saja menjatuhkan dirinya sendiri dua kali lebih besar.

***

Collateral Beauty. Saya menemukan hikmah dalam kejadian yang belakangan menghantui kami terkait orang negatif. The circle is getting tighter because no force is stronger than people who hate the same person. Dan selain saya menambah perbendaharaan personality saya (tentang cara menghadapi orang dengan karakter A B C dan D), saya pun menemukan satu tujuan baru.

Ditengah kegamangan saya akan tujuan hidup, saya menemukan satu bagian tujuan: menghasilkan orang-orang positif lebih banyak lagi. Kelak pelajaran terpenting yang akan anak saya peroleh adalah bagaimana menyikapi segala sesuatu bahkan yang terburuk sekalipun dengan positif.

Bukan berarti mereka harus menafikkan semua emosi negatif, tapi bagaimana caranya mengendalikan diri agar jangan dikontrol oleh energi negatif.

Semakin banyak orang yang bisa memahami situasi dan melihat dari sisi positif, akan semakin jernih kepala berpikir dalam memecahkan permasalahan. Bukan juga naif karena menyingkirkan negativity, but how to embrace the negative situation and stay positive inside.

***

Belajar untuk berkata 'tidak' with good reason. Belajar untuk bertanya agar mendapat jawaban, bukan bertanya untuk menunjukkan kesalahan.
Belajar untuk menerima keputusan orang lain meskipun merasa dirugikan.
Belajar untuk tidak selalu merasa benar.

Dan belajar untuk hanya mengeluarkan kata-kata yang baik saja. Bicara baik atau diam. Cukup.

***

Di ruang tempat saya bekerja, kami mempunyai satu sama lain. Saya teramat bersyukur atas lingkungan baik untuk bertumbuh. Saya selalu berdoa, agar dimanapun saya kelak menetap, adalah selalu bersama dengan orang-orang baik.

Orang-orang yang selalu mampu melihat solusi dalam segala situasi. Orang-orang yang tidak selalu menunjuk-nunjuk masalah dan memperbesarnya dengan kaca pembesar. Orang yang senyumnya menenangkan dan kalimatnya menyenangkan.

Saya tahu, mereka ada. Setidaknya untuk saat ini, mereka ada. Di lantai dua. We are positive people, we mad and we hate sometimes, but we never let it influence others. We're sorry, we run out of space for negativity here.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …