Skip to main content

Scattered Dreams

Minimalism isn't about how little you own. It's about how content you feel with what you possess.

Saya bisa pastikan, jika minimalism masih digunakan untuk membandingkan ego, tujuan awal kita mengalihkan diri dari consumerism yang membuat stress dan tidak bahagia, semakin menjadi stress dan tidak bahagia juga.

Jika sekarang masih belum punya pekerjaan, bersyukur lah karena masih punya banyak waktu luang yang bisa digunakan untuk kepuasan diri sendiri.

Jika sekarang punya pekerjaan tapi tidak punya waktu luang untuk diri sendiri, bersyukurlah karena setidaknya sibuk itu lebih sehat ketimbang berdiam diri dan meresahkan masa depan.

Apapun yang kita miliki saat ini, patut disyukuri karena sadar atau tidak.. Sebenarnya apa yang kita capai hingga hari ini, adalah wujud dari kumpulan-kumpulan bisikan penuh harap semasa kecil. Hanya dengan versi yang jauh lebih baik dari pada yang kita bayangkan.

***

Saya menghabiskan sebagian masa kecil saya berpindah mulai dari Manado (tempat saya lahir), Palu, Napu, hingga ke Subang dan Bogor sebelum akhirnya bertolak ke Merauke dan mendadak saya sudah menjadi remaja.

Selama masih hidup berpindah, kami tinggal di rumah-rumah sewa. Kadang hanya berupa kamar kost yang sempit, yang hanya punya satu ruang untuk bersama-sama.

Satu waktu di Bogor, (saya lupa persisnya dimana), kami tinggal di perumahan yang hanya terdiri dari satu kamar. Letak rumah ke rumah bergandengan, dan yang saya ingat di sebelah rumah kami tinggallah seorang pemuda, single, seumuran papa saya, dan tinggal sendirian.

Saya amat mengagumi pemuda yang saya panggil Om itu. Dia punya banyak peralatan canggih, banyak buah-buahan, dan kamarnya luas sekali. Saat itu saya belum mengerti bahwa ukuran kamar kami sebetulnya sama saja.

Tanpa sadar, setiap kali bermain rumah-rumahan sendirian, saya membayangkan diri saya seperti om itu. Tinggal sendirian, dengan gadget canggih serba bisa, kamar penuh makanan dan yang terpenting.. Punya kunci rumah sendiri. Ya.. Saya selalu menginginkan memegang kunci rumah yang saya pegang sendiri. Bagi saya saat itu, pergi meninggalkan rumah, lalu menguncinya, dan kembali ke rumah dengan membuka kunci adalah suatu keistimewaan yang amat mahal harganya. Mungkin karena mama saya selalu di rumah, kami selalu bersama, dan tidak pernah dalam hidup saya selagi kecil, saya diberi kesempatan tuk menjadi orang terakhir yang meninggalkan rumah sehingga hal itu tanpa sadar menjadi impian saya.

Saya pun bercita-cita ingin menjadi astronaut. Saya kembali teringat oleh cita-cita ini ketika berbincang dengan seorang teman beberapa waktu lalu, tentang keinginannya kembali mengejar mimpi sebagai seorang penerbang luar angkasa.

Ya. Saya juga pernah punya mimpi itu dulu. Saya mengumpulkan kostum-kostum astronaut dan membeli stiker Glow in the Dark berbentuk bintang-bintang yang mengecewakan karena tidak glow sama sekali.

Setiap kali ditanya ingin jadi apa, saya akan jawab ingin menjadi astronaut. Meskipun orang akan tertawa, saya tetap tidak akan perduli, sampai pada titik usia tertentu saya menyadari bahwa astronaut bukanlah pekerjaan seorang perempuan. Sejak itu saya mengalihkan impian tuk menjadi seorang pramugari. Prinsipnya sederhana, saya ingin terbang. Ingin bisa jalan-jalan menjelajah bumi. Saya ingin menjadi orang petualang yang tak pernah lupa untuk pulang.

***

Dua keinginan tanpa direncanakan itu, perlahan berwujud nyata.

Kunci rumah? Ya. Tentu saja saya punya dan saya pegang sendiri. Saya tinggal sendiri, dan bisa membeli makanan apapun yang saya ingin. Begitupun dengan gadget. Perasaan itu kembali menghentak saya saat anak tetangga berusia tiga tahun menangis karena ingin pakai baju yang warnanya sama dengan saya. Anak kecil itu selalu memandang kami -aku dan teman serumah- dengan tatapan kagum.. Mengingatkan saya pada saat saya memandang Om Pemuda itu.

Astronaut? Ya.. Saya memang tidak menjadi astronaut. Mengarah pun tidak. Tapi kesukaan saya pada deretan kisah tata surya hingga kini belum padam. Bahkan.. Saya menjalani pekerjaan yang melibatkan banyak kunjungan ke tempat-tempat yang tidak akan pernah terlintas bagi saya sebelumnya.

Bepergian dengan pesawat setiap bulan bolak-balik, cukup mewakili impian ingin menjadi pramugari. Dan menyaksikan hamparan bintang di langit bersih Utara Sumatera hingga Bagian Barat Kalimantan... Cukup mengobati rasa rindu saya pada jajaran constellation yang teramat luas.

Jika dulu sewaktu SMA saya sempat menangis sedih karena tidak diijinkan tuk mendaftar jurusan Diplomasi (Hubungan Internasional) oleh orang tua, sekarang ini saya tetap menjalani pekerjaan yang ranahnya masih amat lekat dengan teknik-teknik berdiplomasi. Pendekatan, diskusi, jajak pendapat, sama persis dengan keahlian yang saya asah siang dan malam semasa SMA.

***

Allah selalu punya jalan terbaik bagi hamba-Nya yang mau bersabar. Ketika satu hal yang amat kita ingini hanya datang tuk menyapa namun tidak pernah bisa tinggal, jangan terburu-buru berburuk sangka. Karena Allah sudah pasti menyiapkan ganti yang jaaauh lebih baik ketimbang hal itu. Dengan syarat akan diberikan pada saat kita siap.

Jika hari ini kita masih punya keluhan akan lelah yang seolah tidak ada ujungnya, maka lihatlah kebelakang. Lihat sudah seberapa jauh melangkah. Perhatikan bagian-bagian kecil yang selalu kita bisikkan sewaktu kecil yang sekarang telah terwujud.

Be careful with what you wish for.

***
Suatu saat nanti, ketika semua hal dalam bisikan kecil sudah terpenuhi, pastikanlah kita pulang.. Dalam keadaan berbaik sangka pada ketetapan Allah yang selalu penuh misteri

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert