Skip to main content

Quarter Life - Women

Sebuah telpon datang malam ini tanpa diduga. Dari seorang kawan lama, yg juga sama melajang. Entah untuk alasan apa, sepertinya semesta memang paling ahli dalam soal konspirasi. Karena saat ini saya banyak dikelilingi oleh perempuan-perempuan hebat, mandiri, dan berparas cantik tapi masih juga hidup sendiri.

Mungkin karena kami berbagi resah yang sama sehingga kami bisa begitu kuat dan saling mendukung satu sama lain.

Sama-sama tidak tahu bagaimana caranya mengakhiri ini. Sama-sama tidak mengerti apa sebenarnya yang kita ingini. Dan sama-sama tidak yakin akan jalan yang kita pilih.

***

Marriage is overrated. The overwhelming feeling of joy that somebody created on the surface but its broken inside (it's true).

Jika saya terdengar seperti orang yang anti menikah, ya salah. Saya tidak ingin anti terhadap apapun karena hidup selalu penuh kompromi. Saya hanya tidak senang ketika seseorang terlalu berlebihan dalam mempertontonkan kebahagiaannya dan menggunakannya untuk "menyerang" orang lain hanya karena orang itu hidup lebih bahagia dengan dirinya sendiri.

Itu yang membuat teman saya sedih malam ini.

***

Empati.

Orang teramat sibuk untuk bisa menyempatkan diri merasakan empati. Seolah-olah semua hal yang terjadi pada diri seseorang dapat dengan mudah dibercandai. Bahwa semua hal menyenangkan termasuk mengolok-olok teman sendiri. Meskipun maksudnya adalah baik dan menyemangati.. Tapiiii....

Coba bayangkan, pernah tidak anda berada dalam satu situasi dimana anda bersama orang lain mencari-cari kesalahan atau kebodohan seseorang agar bisa mencairkan suasana?
Lalu semua orang tertawa. Pun yang menjadi objek bercanda ikut tertawa.

Dalam situasi demikian, seberapa sering anda menyempatkan diri untuk bertanya, atau sekedar memikirkan posisi dia? Untuk sekedar menempatkan diri.. "Oh..kalau saya jadi dia, begini rasanya" lalu setelah paham itu, untuk selanjutnya tidak akan mengulang hal yang sama.

Sering? Jarang?
Sudahlah. Anda yang tahu seberapa sering anda mencoba berempati.

***

"Kita sudah sedemikian hancur-broken inside.. Tapi kenapa kamu masih bisa tenang?"

Salah satu pertanyaan teman saya yang membutuhkan waktu berpikir sebelum menjawab.

Saya tidak pernah merasa saya adalah orang yang tenang. Untuk itu saya mencoba selalu untuk bisa tetap tenang dalam situasi apapun. Saya mencoba memahami dan menyadari peran serta karakter seorang ibu dalam sebuah rumah tangga, salah satunya adalah menenangkan. Jika saya saja tidak bisa menjaga diri agar tetap tenang, bagaimana nanti saya akan menghadirkan ketenangan di tengah-tengah keluarga saya nanti.

Segala macam cara saya upayakan agar bisa tetap tenang, salah satunya dengan menyibukkan diri sendiri bersama tumpukan-tumpukan pekerjaan. Bahkan pekerjaan dari luar kantor pun masih saya ambil demi menghabiskan waktu.

Membaca buku adalah sumber ketenangan hakiki. Jika saya sudah sedemikian sedih dan terpuruk, maka buku yang saya baca adalah kitab suci yang ayat-ayatnya mampu membuat tenang siapapun yang membaca atau mendengar.

Saya yakin, laki-laki itu sejatinya penuh dengan emosi. Mereka diciptakan terlebih dahulu, tanpa teman dan sepi. Mereka butuh teman bicara, mereka butuh air ketika sedang jadi api. Jika saya ingin menjadi pendamping bagi seorang laki-laki, maka terlebih dahulu saya perlu belajar bagaimana caranya mendampingi.

***

"Kamu gak berusaha? Gak juga membuka peluang bagi mereka yang datang mendekat? Lantas bagaimana caranya kamu pikir kamu akan mendapat seseorang as the right one?"

Pertanyaan selanjutnya membuat saya menghela napas.

Sejujurnya saya lelah dengan yang namanya "berusaha". Mencoba masa penjajakan yang berakhir dengan kekecewaan. "Bikin pegel hati" begitu istilah ibu-ibu di kantor lantai dua.

Saya pikir.. Biarlah saja. Toh men are born chaser. Mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk dapatkan apa yang mereka mau.

Jika benar dia tertarik pada saya, saya yakin dia akan mencari tahu tentang saya. Saya terbuka kok. Ada di media sosial manapun juga. Bahkan bisa jadi, dia pun sedang membaca tulisan ini. (Lol).

Saya akan membiarkan dia tahu semuanya, hingga tidak ada lagi yang perlu dipertanyakan dalam obrolan basa-basi serupa metode dalam pekerjaan yang sedang kita jalankan. Bullshit. Saya malas dan lelah dan jelas-jelas menutup pintu rapat-rapat bagi obrolan basa basi genit yang hanya akan membuang waktu saya yang amat berharga.

Seorang teman lain pernah bercerita tentang caranya dilamar oleh sang suami. Hanya melalui percakapan via fitur online chatting. Yang diseriusi oleh pihak lelaki.

Yeah. why not?
Ketimbang ditanya "hey how's today?" Yang berlanjut dengan obrolan curhat sarat kode, saya lebih suka ditanya "hey will you marry me?"

Terhadap pertanyaan demikian, saya tidak akan menganggapnya sebagai bahan bercanda. Karena akan sangat keterlaluan bagi seseorang mencandai sesuatu yang demikian sakral. (Oh tuan saya semakin benci dengan orang yang terlalu banyak bercanda).

Sampai disini saya harus diam sejenak. Ya.. The right one tidak akan membuang waktunya dengan pertanyaan basa-basi. Dia akan straight forward dan dia tahu apa yang dia mau.

***
Nasihat lama mengatakan, choose your woman wisely. She represents you. Untuk para lelaki yang tengah mencari pendamping.

Yang jika dibalik, maknanya adalah.. Bagi perempuan, sebelum mendapatkan pendampingi, maka harus tahu dulu seperti apa rupa perwakilannya. Dia yang menentukan apakah akan menjadi perwakilan "klub malam" dengan berdandan serba terbuka ala mobil pick up yang menampung semua orang, atau akan menjadi wakil seorang "eksekutif muda" dengan banyak mengisi otak melalui bacaan bermanfaat, dan berdandan layaknya perempuan cerdas dan elegan.

Kitalah yang menentukan orang seperti apa yang pantas untuk kita. Jangan khawatir jika dia belum datang juga. Mungkin dia hanya sedang bersembunyi dan mengamati. Sembari menimbang-nimbang, apakah kamu yang akan dia pilih.

***

Jika teman saya bilang, bahwa pelajaran hidup saya banyak sekali.. Itu tidaklah lepas dari kesukaan saya menjalin silaturahmi dan memilih menjadi pendengar. Hanya dengan mendengar, saya bisa merangkum pengalaman seseorang yang ia habiskan selama dua puluh tahun, untuk saya pelajari sari maknanya dalam dua puluh menit. Hanya dengan mendengar, saya bisa mengerti tentang segala hal yang ingin saya hindari di kemudian hari.

Jika dibilang saya bahagia. Ya tentu saja saya bahagia. Saya bersyukur jika mengingat betapa saya bisa bebas melakukan segala, dan tidak sedang terjebak bersama orang yang salah. Saya masih punya kesempatan untuk memilih orang yang spark joy bagi saya.

Love is what spark joy.

***

Kita kesepian. Itu benar. And at the end of the discussion, we both agree jika kita bertemu lelaki yang juga mapan dan kesepian, kita bisa merangkulnya sambil berkata.. "I can feel you, bro. I really do". Sambil menyeduhkan coklat hangat, atau smoothie segar.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert