Skip to main content

Living a Peaceful Life

Tiga hari lalu saya mengunjungi sebuah yayasan panti asuhan. Membawa semua staff di kantor, untuk perayaan syukuran hari jadi perusahaan mungil tempat kami bekerja. Disebut mungil karena kantor kami ukurannya memang kecil, ala rumah minimalist. Pun jumlah staff nya hanya bertiga belas sudah dengan office boy. Tapi dengan jumlah tim seminimalist ini, kerja kami luar biasa produktif. Saya bisa akui itu.

Bermain bersama anak panti asuhan, dengan gap usia yang cukup jauh (mulai dari anak SD kelas 4, hingga anak kuliah semester delapan), benar-benar membuat saya ingin menangis. Saya sempat menahan air mata ketika di akhir acara, kami membagikan bingkisan, dan mereka berkeliling bersalam-salaman sambil menggemakan shalawat khas anak pesantren. Suara riang, bahagia, mereka terdengar merdu di telinga saya yang buta nada. Mereka adalah panutan minimalist bagi saya. Dengan sedikit yang dimiliki, tetapi dapat merasakan bahagia sebanyak itu. Jangan ditanya seperti apa latar belakang masing-masing anak, karena saya hampir menangis mendengar cerita salah satu dari mereka sebelum acara di mulai.

***

"Creativity sits in the absence of consumption" -The Minimalists-

Kita pasti sering mendengar success story dari seorang enterpreneur, filsuf, penulis, motivator, dan lainnya yang berangkat dari ketiadaan. Artinya, mereka dulu hidup susah, harus berjuang untuk bisa sekolah, and end up as a billionaire. Selain memang cerita-cerita itu cukup menjual di toko buku dan media, seorang yang dilahirkan dengan keterbatasan, memang punya kesempatan lebih besar untuk bisa sukses. Selama dia punya tekad untuk itu.

Housemate saya seorang perempuan gigih. Berangkat dari kota kecil di Jawa Timur, mengenyam pendidikan di Jawa Barat, hingga ke Australia. Semua yang dia miliki hingga saat ini, adalah hasil kerja kerasnya sendiri. Dia meraih mimpinya, live a life she dreamt of. Saya yakin, jika saat ini dia ingin pergi jalan jalan ke Eropa sana, tanpa berpikir dua kali, dan dengan impulsive beli tiket pun dia sanggup. But she didn't. (Saya tahu karena selain bekerja di siang hari, kami berdua bekerja di malam hari mengerjakan pekerjaan sampingan yang cukup untuk memuaskan ego).

Saya kagum akan kegigihan dan kemampuannya mengatasi masalah, dan saya yakin kemampuan itu bukan ia dapat dengan cuma-cuma. Karena kalau dengar cerita-ceritanya semasa berjuang menyelesaikan studi di Australia, saya jadi mengerti arti penting merantau dan hidup pas-pasan. Hard work pays off. Sekarang dia hanya tinggal menunggu lelaki yang cukup nekad untuk datang melamar.

Namun bukan berarti mereka yang 'terlanjur' lahir dari keluarga berada, mapan dan kaya raya tidak punya kesempatan untuk sesukses itu. Ini bukan tentang ego siapa lebih keras perjuangannya dibanding siapa. Ini tentang kreatifitas yang akan muncul ketika kita mengijinkan diri kita untuk hidup minimal. Hidup secukupnya, dengan yang kita butuhkan. Hanya yang kita butuhkan.

***

Jelang tujuh belas Agustus, diskon besar-besaran dimana-mana. Semua mata tertuju pada selebaran potongan harga yang me-wow-  kan mata. Seolah-olah menjanjikan kebahagiaan disana, event semarak yang dirasakan bersama harus dibumbui dengan janji-janji harga murah, agar membeli barang yang tidak kita butuhkan.

Consumerism is only filling the ego, and ego won't get enough of things or stuff. 

Mungkin sampai manusia Bumi bermigrasi ke Mars pun consumerism ini tidak pernah akan habis. Karena manusia tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki, hingga tumpukan barang di dalam rumah dirasa wajar and fulfilling, while it's not. 

***

Tiga hari ini saya benar-benar disibukkan dengan urusan duniawi. Main job at day, side job at night. Ada orderan dari luar kantor untuk menyelesaikan pekerjaan dalam tiga malam. Jika ada yang bertanya aren't you a minimalist? Why work so hard? You should get enough of working with your daily job and enjoy the time instead..

Terlepas dari asumsi seperti 'kerja terlalu keras' 'cari uang terlalu ngoyo' saya hanya ingin kita menjadi orang yang tidak mudah menghakimi orang lain. Mungkin sebuah 'kerja yang terlalu keras' bagi seseorang, sama dengan 'kerja biasa saja' bagi orang lain. Mengerti bahwa kapasitas dan kemampuan setiap orang berbeda, maka sebaiknya think before you judge. 

Ya, saya bekerja melebihi jam manusia bekerja. Saya tidur dini hari, selama satu sampai tiga jam, untuk bangun dan kembali berkutat dengan layar laptop. But it sparks joy to me, and whatever it is you're going thru, choose the one that spark joy. Karena joy adalah modal dasar untuk menjadi excellence. 

Saya senang menciptakan senyum-senyum kecil di wajah orang-orang di sekeliling saya. Membuat mereka tertawa dengan jokes-jokes kecil yang saya lemparkan, membuat mereka bahagia dengan kado-kado kecil yang saya beri secara acak. Bahagia saya ada pada supir kantor yang jarang tersenyum, tertawa ketika saya goda potongan rambutnya yang baru. Bahagia saya ada pada seorang ibu muda dengan keterbatasan finansial, menerima paketan oleh-oleh dari saya untuk anaknya. Bahagia saya ada pada semua hal yang bisa saya beri pada semua orang yang peduli pada saya.

Money can't buy happiness, tapi proses dalam making money and spending the money lah yang membuat seorang merasa bahagia. Saya berdamai dengan diri sendiri, dan persoalan yang ada ketika sedang make money. Saya pikir itu adalah hal terkeren yang pernah saya lakukan. Karena saya bahagia, melakukannya.

What is better than getting paid doing what we love? 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …