Skip to main content

Konsep "Ruang dan Karakter"

Seorang gadis kecil dengan baju terusan lengan pendek, menenteng ember, mengenakan mahkota, berjalan riang di pinggir jalan yang sudah mulai macet.

Anak lelaki bersepeda di tepian sawah, dengan ukuran sepeda dua kali tubuhnya, berpeci hitam, berbaju koko, bersiul riang menuju masjid yang sebentar lagi mengumandangkan azan.

Dan matahari merah dengan bentuk bulat sempurna, terpampang gagah seakan berkata...

Syukurilah hari ini. Setiap hari pasti punya indahnya sendiri. Aku akan selalu disini. Menantimu hingga malam tidak lagi terasa sepi.

***

Pemandangan sepulang kantor selalu indah jika dilewati pada waktunya. Seringkali saya bekerja seperti tidak memiliki kehidupan selain di kantor. Pulang larut malam, kadang-kadang menghabiskan waktu yang sebetulnya tidak begitu efektif untuk dibilang sebagai 'bekerja'.

Ketidakmampuan mengatur waktu seringkali menjadi alasan utama seseorang bekerja dengan amat lambat hingga mengorbankan kepentingan pribadi. Jika pekerjaan memang banyak, dan membutuhkan waktu lama, maka ketidakmampuan mengatur sumberdaya lah yang menjadi penyebab.

Saya baru menyadari hal itu belakangan ini, terutama sejak memutuskan untuk pindah rumah dan mengontrak sementara.

***

Funny how the theory was true, about space and human character. Saya pernah mempelajari sekilas tentang arsitektur - yang sebetulnya adalah mata kuliah arsitektur lanskap- tapi juga membahas sedikit mengenai penataan ruangan.

Bahwa emosi manusia, akan lebih bisa dibawa tenang jika berada pada ruang dengan atap tinggi. Semakin rendah atap, semakin mudah energi emosi itu memantul dan membuat cepat marah.

Wajar jika pemerintah Kota Jakarta mengerahkan segenap cara untuk memindahkan pemukiman kumuh ke rumah susun. Despite all politics and business interest, tidak ada alasan yang dapat membenarkan bahwa tinggal di perkampungan kumuh adalah lebih baik ketimbang tinggal di bangunan yang bersih.

Meskipun saya juga tidak setuju dengan penggusuran, karena itu hanya mencerminkan keterburu-buruan dan sifat malas. Buru-buru karena mungkin dikejar tenggat waktu yang berkaitan dengan unsur politik atau bisnis, dan malas karena minim nya upaya pendekatan ke masyarakat. Yaa semacam FPIC itu lah.. Hehe.

Padahal orang Indonesia ni paling mudah sebenarnya dibujuk. Belum lagi domino effect yang sering terjadi: satu buka warung kopi semua buka warung kopi. Satu suka SNSD semua suka SNSD.

Anyway, kembali ke soal ruang.

Orang-orang yang menolak pindah ke rumah susun, dan memilih tinggal di pemukiman kumuh dengan alasan kenyamanan, adalah amat wajar dan bisa dipahami.

Manusia cenderung mencari zona aman. Itulah kenapa ada ungkapan untuk selalu keluar dari zona nyaman, karena kecenderungan manusia untuk bersembunyi dibalik sesuatu yang mereka ketahui. Perubahan bukan hal menyenangkan bagi siapapun. Kecuali bagi jiwa jiwa petualang.

Padahal, begitu seseorang pindah dari satu rumah ke rumah lain, tanpa sadar ia pun meninggalkan sebagian dari masa lalunya di tempat yang lama. Tempat baru, berarti kebiasaan baru. Meletakkan panci, kursi dan jendela, pun baru. Hal-hal sederhana yang biasa dilakukan rutin setiap pagi, mendadak berubah.

Hingga semua terasa familiar, ada satu kemampuan yang diasah disitu: adaptasi. Kemampuan dasar yang dimiliki manusia agar bisa bertahan hidup.

***

Semenjak pindah ke rumah ini, saya merasa banyak perspektif yang telah berubah. Tentu saya tahu, ini tidak menyenangkan bagi sebagian orang. Perubahan ini tidak membawa kebaikan bagi siapapun kecuali saya. Tapi karena tidak ada siapapun yang akan bersama saya di masa sulit kecuali diri saya sendiri.. Maka saya tidak peduli.

Ada ruang-ruang yang memang harus diisi dengan orang lain, menjadikan kita seseorang yang hangat dan selalu penuh sambutan. Sebut saja ruang itu adalah ruang tamu. Ruang ini perlu diisi, tapi sesekali. Karena jika terlalu sering ramai, akan ada ruang yang terlupakan:

Yaitu kamar. Ruang untuk pribadi. Ruang untuk diri sendiri. Ruang untuk menenangkan diri, dan mengevaluasi hari.

Orang dengan ruang tamu lebih lebar ketimbang kamar, adalah orang yang lebih senang dikelilingi kerabat dan handai taulan ketimbang sendiri. Itu bagus untuk bersosialisasi. Tapi justru merusak diri sendiri. Terlalu sering dikelilingi banyak orang, akan mengurangi waktu untuk merefleksi. Tindakan, tujuan, mimpi-mimpi, menjadi tidak sempat lagi untuk disusun dan dikejar.

Sedangkan orang dengan ruang tidur lebih lebar, akan lebih cepat dalam mengenal diri sendiri, namun sulit berbaur dengan orang lain. Akibatnya, ia akan penuh judgemental terhadap orang baru dan akan mudah membaca karakfer lawan. Padahal sosialisasi itu penting. Bergaul dengan sekitar, selain mempererat silaturahmi yang dianjurkan agama, juga melatih kecerdasan emosi.

***

Jika sebuah ruang dapat mempengaruhi karakter seseorang, maka saya ingin ruang yang sederhana. Tidak perlu dibubuhi hiasan dinding kecuali yang multiguna. Lebih baik kosong daripada diisi oleh benda yang entah apa fungsinya.

Ruang-ruang minimalis yang memungkinkan penghuninya melihat sisi dan benda yang spark joy. Ia bahagia setiap kali melihatnya dan tidak butuh menghabiskan banyak waktu untuk organizing the room. Ruang minimalis membuka banyak celah bagi seseorang untuk bisa melakukan hal-hal yang ia suka. Tidak perlu pusing dengan urusan beres-beres, apalagi dilakukan setiap minggu.

Semakin kita mengenal diri sendiri, semakin akan kita sadar bahwa kita tidak membutuhkan semua yang kita inginkan. Semua benda disekeliling, tidak semua bermanfaat dalam hidup kita. Pun semua benda yang kita inginkan, belum tentu akan sebegitu bermanfaat bagi diri kita.

The more you know yourself, the more you'll realize, that all you want is: Less.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert