Skip to main content

In the Midst of Emotional Day...

Saat ini saya tengah menemui satu soalan yang amat menguras emosi. Marah, kesal, dan kecewa, bukan energi yang baik untuk dirasakan, tapi sulit juga tuk dihilangkan.

Kaitannya dengan rumah yang tengah saya bangun. Membeli rumah bukan lah sesuatu yang big a deal di hari sekarang ini. Banyak developer menawarkan harga murah, proses mudah, dan dibantu sana sini. Sekitar dua tahun lalu, saya memberanikan diri membooking satu unit di daerah Bogor (kabupaten). Pihak pengembang amat baik dan ramah, dan menjanjikan macam-macam kebahagiaan.

Segala penawaran baik dibeberkan di hadapan saya yang sudah mulai tergiur. Hingga akhirnya mencapai kata sepakat. Pertimbangan saya saat itu adalah akses yang tidak terlalu sulit. Saya sudah mensurvei beberapa lokasi, dan dengan harga yang sedikit lebih mahal tapi tidak signifikan, saya bisa mendapat unit rumah yang mudah dijangkau dari jalan raya.

Dua tahun berlalu, semua proses saya jalani pelan-pelan. Karena saya melakoni semuanya sendirian, sambil bekerja dan kunjungan lapangan (I work as a consultant. Consultant, at their lowest level, should visit client's location). Akhirnya pada Bulan Maret 2017 resmi saya membayar cicilan pertama saya dengan kondisi rumah yang sudah setengah jadi. Pihak pengembang menjanjikan rumah sudah akan diserah terima by the end of March or early April, yang pada faktanya baru diserahkan per tanggal 3 Agustus kemarin. Tak apa.

***

Tentu saya melakukan pengecekan. Tentu saya kecewa karena mengetahui bahwa bonus-bonus yang dijanjikan di awal, ternyata tidak ada. Mereka berkilah, dan kini susah dihubungi. Yasudah.. Mau melapor pun saya tidak ada bukti percakapan dua tahun lalu ketika mereka meminta saya memilih bonus yang tersedia.

Pun fasilitas printilan yang tidak seperti pengembang lain. Saya lihat di beberapa perumahan, bahkan perumahan subsidi, disediakan fasilitas pembuangan sampah dan keamanan. Sedangkan rumah saya, jangankan kebersihan keamanan, jalan saja masih rusak parah. (Mereka janji lagi akan mulai membangun jalan pada pertengahan Agustus, kita lihat saja).

Belum lagi para tukang yang sepertinya marah dengan pihak pengembang. Saya kurang paham apa persisnya persoalan pengembang dan para tukang, yang jelas sikap sang mandor saat ini berubah. Yang dulunya baik dan terkesan amat melayani, sekarang lebih banyak diam dan sering menyalah-nyalahkan pengembang.

Akibatnya rumah saya jadi korban. Entah karena kemarahan atau simply memang kemalasan, bekas-bekas pembangunan berserakan di halaman rumah saya. Mereka masih bebas duduk-duduk dan merokok di teras rumah saya, menggunakan air dari keran halaman saya, dan tidak peduli ketika saya datang dan masuk ke dalam rumah.

Sampai sini saya harus menghela napas dalam-dalam.

Garansi yang diberikan, sama dengan pengembang pada umumnya, tiga bulan. Maka saya harus setidaknya tinggal di rumah itu dalam tiga bulan ke depan. Tapi.. Dengan semua situasi ini, para tukang yang masih sembarangan dan masih membangun beberapa titik (suara mesin gergaji las dll), tidak mungkin saya bisa berisitirahat dengan nyaman.

Beberapa rumah yang sudah dihuni, telah dipagari sehingga tidak bisa dipakai lalu lalang oleh para tukang. Pun mereka tidak tinggal sendiri, tidak seperti saya.

***

Di tengah-tengah padatnya emosi antara kesal dan khawatir, saya harus bisa tetap tenang. Saya tahu, menceritakan permasalahan ini tidak akan menyelesaikan apapun. Pendapat yang disampaikan orang lain, kebanyakan saya sudah tahu dari membaca dan mengamati pengalaman orang-orang yang sudah pernah.

Saya tidak bisa menceritakan ini pada orang tua saya karena itu hanya akan membuat mereka khawatir dan tidak ada hal baik yang bisa dihasilkan dari kekhawatiran.

Maka saya harus bisa tetap tenang, dengan berbagai cara.

***

Ketika saya amat marah, hal pertama yang saya lakukan adalah menghela napas dalam lalu senyum. A smile will trick your brain into happiness. Lalu saya berbisik pada hati saya, semua akan baik-baik saja. Cukup mulai dengan hal-hal sederhana, hal-hal kecil tapi yang penting dimulai. Jangan terus terus dipikirin.

Setelah itu saya akan bersyukur. Unlucky people focus on what is missing, but lucky and happy people focus on what they have. Ketimbang memfokuskan pikiran pada semua persoalan, saya mengalihkan energi untuk mengingat dan memeluk dengan bahagia, fakta bahwa kini saya sudah mempunyai sebuah rumah. Banyak orang di luar sana yang menginginkan apa yang saya miliki sekarang, tapi tidak bisa. Dengan segala kekurangan dan tantangan, tidak sepantasnya saya menyimpan energi negatif atas emosi-emosi yang merugikan.

Selanjutnya saya akan mulai menyusun rencana. Apa dan bagaimana. Saya susun juga rencana cadangan, dengan waktu yang terbatas karena dalam beberapa minggu saya harus kembali off untuk keluar kota.

Saya tahu saya butuh bantuan. Tapi saya tidak ingin merepotkan orang ketika saya masih sanggup kerjakan sendirian.

Dan semua nya itu membutuhkan tubuh yang sehat. Maka saya mulai menghibur diri dengan membuat kreasi makanan-makanan enak, dan berolahraga. Sweat erase negativity. Agar bisa selalu happy, dan tidak termakan emosi.

Happy Sunday,
Cheers..

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …