Skip to main content

Bicara Cinta diantara Merah dan Putih

Dalam nuansa merah putih yang berkibar dimana-mana pada hari ini, entah kenapa saya jadi tergelitik ingin membahas mengenai love life.

Apa sih, cinta itu?

Sejak remaja saya selalu tertarik dengan penulis-penulis yang mendefinisikan cinta dengan cara berbeda. Puisi, novel, cerita pendek, saya suka sekali membaca cerita pendek di tabloid kesukaan ibu rumah tangga.. Yang pada jaman itu memang paling laku.

Meski begitu tetap saja saya gagal paham dengan soalan satu ini. Dulu, saya pikir saya sudah tahu dan sudah merasakan gejolak hebat bernama cinta. Hingga Sang Waktu menyadarkan betapa hal itu bukanlah cinta melainkan kebodohan.

If I repeat the cliché, mereka bilang cinta itu pengorbanan. Kesetiaan. Kasih sayang. Mereka bilang cinta itu sakral. Tanpa balas. Dan tulus.

The idea of love is so tempting that people are get caught into it. So desperately looking for love or waiting for love. And when they do fall in love, they act stupidly foolish, less productive, and unpredictable.

***

Saya salah mengira selama ini bahwa cinta datang untuk saling memperbaiki. Karena setiap mereka yang sempat singgah, pasti punya keinginan untuk merubah saya, dan juga sebaliknya. Padahal, berdasarkan definisi para pujangga, cinta adalah menerima. Menerima keseluruhan seutuhnya, tanpa ada maksud untuk saling mengubah. Meskipun benar bahwa kita hidup harus semakin baik di setiap harinya. Tetapi bukan berarti orang lain yang harus membuat dia berubah.

Cinta ada untuk menerima. Jika nanti ia tak berubah lebih baik pun, cinta tetap hadir dan merawat dengan penuh kasih sayang.

Bisa dibilang, setiap manusia perlu memiliki perasaan itu untuk bumi, planet kita satu-satunya ini. Jika diibaratkan makhluk hidup, bumi ini sudah tua. Sudah nyaris tidak sanggup lagi menopang hidup sekian milyar manusia. Tapi apakah kita akan berhenti mencintai dan merawat bumi? Bukan seperti itu cara cinta bekerja.

Kemudian, cinta ada untuk menenangkan. Seperti kata seorang teman yang kini sudah beristri dan dikaruniai seorang putri, "gue pilih dia, karena sudah lelah mencari. Tidak ada lagi yang lebih menenangkan daripada hadirnya dia disini"

Karena kita sudah punya cukup kekacauan untuk ditambahkan ke dalam pikiran. Berangkat ke kantor, di jalan raya; kacau. Lalu lintas carut marut. Sampai di kantor, urusan menumpuk, tugas berderet, ruwet. Cinta yang menyambut di rumah, akan membantu menghela napas lega. Setelah hari yang panjang, to finally talk about the dreams and universes. Mungkin Cinta tidak akan sepenuhnya membantu tuk keluar dari masalah, tapi bukan itu yang terpenting. Allah itu Maha Detil. Dia memberikan masalah pada seseorang, lengkap dengan kunci jawabannya. Manusia hanya butuh tahu cara membuka kunci jawaban yang sudah Allah sediakan. Dan itu caranya hanya dengan: tetap tenang.

***

Saya pernah gagal. Sekali? Lebih. Dikecewakan, ditinggalkan. Mungkin kalau diceritakan hanya akan jadi bahan tertawaan, karena saya pun akan menceritakannya dengan tertawa.

Tapi siapa yang tidak pernah gagal? Bahkan mereka yang menjaga diri dan hati hanya untuk satu pasangan pun pasti pernah dikecewakan oleh false alarm. Menyangka dia orang nya tapi ternyata bukan.

Dari semua kekecewaan yang pernah saya lewati, tidak ada satupun yang tidak meninggalkan pelajaran berarti.

Bahwa ternyata..

Cinta itu adalah tentang saling memiliki. Bohong jika ada cinta yang mau melepas pergi karena sejatinya manusia selalu mengedepankan diri sendiri. Jika seseorang benar mencintai kita, dia akan perjuangkan apapun tuk bisa bersama dengan kita. Namun jika tidak, mungkin dia memang hanya setengah hati menginginkan kita atau.. Hanya sekedar menghabiskan waktu.

Cinta datang bukan untuk mengubah. Pernah bertemu dengan orang yang sangat perfect buat kamu, and you think she/he is the one, dan kamu bahkan sampai berbicara pada Allah bahwa kamu inginkan dia? Tapi ada satuuu saja bagian kecil dari dirinya yang ingin kamu ubah? Maka itu bukan cinta. Itu hanya hasrat sesaat because you finally meet the 7 to 10 criteria you've wrote and you worry that you won't find someone like him/her again in the future. Jika kamu percaya Allah, yakinlah ada seseorang yang telah ditakdirkan yang memang mempunya seluruh kriteria yang kamu butuhkan. (I haven't met mine, yet I haven't defined the criteria, tapi saya yakin suatu saat pasti ada waktunya. Bukan secepatnya. Tapi setepatnya).

***

Pengalaman gagal yang saya rasakan, membuat saya sadar bahwa selama ini saya belum tahu yang saya mau. Saya belum tahu apakah saya ingin bersama dengan orang yang telah lama saya kenal, atau a total stranger yang baru kenal beberapa bulan. Saya belum tahu apakah saya menginginkan orang dari suku tertentu, atau saya ingin membebaskan diri agar bisa memperluas keluarga.

Mungkin saat ini ada beberapa kriteria yang akhirnya saya pegang, berbekal pengalaman tidak mengenakkan, saya memutuskan untuk memilih bersama dengan seorang teman ketimbang orang asing, misalnya. Jika dulu saya sering dibilang odypus complex karena selalu bersama dengan orang yg jauh lebih tua, kini saya merasa lebih nyaman jika nanti pasangan adalah seorang yang juga bisa diajak berteman. Rasa hormat dan menjaga privasi tetap akan terjalin, karena teman akan saling menghargai  (as am getting too comfortable in my single life am afraid that someone will actually cross the line).. Tapi bisa selalu saling mendukung dan menjadi teman bicara. Because when we're old and grey.. Talk is all we have.

***

Besok saya ada meeting pagi. Dalam dua hari juga ada penerbangan pagi yang harus saya sambangi. Saya bahkan tidak bisa membedakan rasa asin dan manis lagi. Karena seharian ini saya hanya bisa menikmati libur selama kurang dari setengah hari.

Jika cinta itu tidak selalu berbentuk manusia, maka saya bisa katakan bahwa inilah cinta yang tengah saya rasa. Lelah yang terbayar oleh rasa puas dan bangga. Pengorbanan? Jelas ada di dalamnya. Yang terpenting adalah, selayaknya cinta, ini pun.. Mendatangkan bahagia.

***

Selamat malam, Indonesia yang sudah lama merdeka.

Bogor, 18 Agustus 2017 00.35

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert