Skip to main content

At The End of the Tunnel

Setiap lorong pasti ada ujungnya. Sedih atau bahagia, pasti ada akhirnya. Itu sebab kita masih diizinkan untuk hidup dan menikmati setiap proses. Karena gelombang serta naik turunnya air permukaan, hanya ada ketika kita masih hidup di dunia. Kelak "di sana"... Hanya bahagia yg kita dapat.

***

Sudah beberapa hari ini saya tidak merasa sedih, terpukul, apalagi sakit hati. Pun ketika ada hal yang membuat kesal, saya singkirkan itu sekuat tenaga dengan menghibur diri bersama benda-benda yang ada di sekeliling.

But none can deny nature law. When there's ups.. There must be down. Agar manusia bisa mengapresiasi keindahan dari atas, dia harus terlebih dahulu merasakan berada di bawah.

Tidak ada hal yang lebih menyakitkan hati selain kenyataan yang terungkap belakangan. Ketika kita merasa berarti bagi seseorang, namun belakangan kita tahu bahwa dia hanyalah menghabiskan waktu. Hanya bercanda. Atau hanya sekedar.. Mencoba-coba.

Mungkin bagi sebagian orang itu biasa. Dan kesalahanmulah terlalu mudah percaya. Sehingga hati manusia kini menjadi lebih keras dari baja. Demi melindungi kelembutannya yang mudah terkoyak.

***

Malam ini saya menemukan satu fakta tidak menyenangkan. Betul bahwa saya telah melepas kenyataan itu sebulan lama nya. Semenjak kepulangan saya ke rumah dan melepas semua angan-angan yang berhasil seseorang bangun untuk saya, yang sekaligus dia runtuhkan juga dalam sekejap mata.

Tekad saya sudah bulat, untuk mencari bahagia dan damai dalam diri sendiri. Tidak perlu mengandalkan orang lain, apalagi bergantung dan menunggu hadirnya orang lain agar bisa bahagia. Bahagia itu kita yang buat, begitu bisik saya berkali-kali.

Fakta yang saya temukan kini, bukanlah membuat saya kembali mengangankan tentang nya. Saya bahkan tidak terbersit keinginan sedikitpun untuk bersapa. Saya hanya kecewa. Karena mengetahui bahwa jika memang dia sudah tahu sejak sebelum kita bertemu, bahwa kita tidak bisa bersama... Untuk apa ia bangunkan angan-angan mengenai istana untuk saya?

Ya. Ternyata dia sudah tahu. Bangunan semu itu, hanya untuk menghabiskan waktu.

Saya sedih karena merasa menjadi orang paling bodoh yang termakan omongannya. Termakan kata-kata manis dan perhatiannya. Saya merasa amat idiot karena begitu mudahnya percaya pada fantasi yang dia beri. Terlalu termakan cerita dalam film ketika cinta.. Bisa dengan mudah datang dan menetap.

***

Sedih saya ini saya anggap sebagai pelengkap. Bahwa manusia memang sejatinya tidak bisa menafikkan perasaan sedihnya. Bahwa bahagia terus menerus adalah mustahil dan naif. Bahwa wajar dan manusiawi jika seseorang merasakan sedih.

Meskipun bahagia adalah kita yang pilih, bukan berarti kita tidak boleh merasa sedih. sedih hanya boleh ditutupi di depan orang banyak. Tapi tidak di depan cermin atau... Bulan.

Sejenak saya habiskan waktu berdiri menengadah seusai mencurahkan isi hati pada teman serumah. Selama ini ia tidak tahu mengenai apa yang barusan saya ceritakan. Bercerita memang membuat lega. Meluapkan sedikit kekecewaan pada orang yang berwujud nyata. Maka setelah saya curahkan semua tanpa air mata, saya berjalan keluar.

Bulan berada tepat di atas atap rumah kontrakan kami. Bulat sempurnah, di angkasa luas. Luas sekali tanpa ada setitik bintang pun di sana. Angin dingin menyergap tidak biasa. Udara sehabis hujan, membuat sendu menjadi lebih mudah tertumpah.

Saya hanya butuh untuk berdiam termangu. Mendongak ke atas pada awan-awan yang menyingkir memberi ruang untuk sang bulan berpendar. Diam di sana, mengadukan pada Sang Kuasa. Dalam diam, air mata turun perlahan. Sang bulan tidak akan tertawa, apalagi melarang sebuah tangisan. Ia hanya akan terus berpendar dengan cantiknya. Memancarkan ketenangan. sendirian.

Saya menyadari betapa luasnya langit Tuhan. Bumi dan seisinya pun di luar yang saya mampu bayangkan. Tinggi. Tinggi sekali. Di tengah jalan di antara dua rumah saya berdiri, mengenakan celana se lutut dan bertudung topi.

Damai. Ya. Hanya dengan menikmati suasana dengan benda di sekitar.. saya merasa damai. Saya merasa cukup. Padahal bulan itu bahkan tidak saya miliki. Ia adalah milik semua makhluk di bumi. Tapi damai yang dia beri, dapat semua orang resapi.

***

Hanya jika kita memberi keleluasan pada hati untuk merasakan hal-hal yang sepatutnya ia rasakan, kita akan menemukan bahwa kebahagiaan sejati, memang tidak hakiki. Kebahagiaan sejati, akan datang dengan tangis atau dengki. Tapi tidak ada kebahagiaan sejati yang datang karena materi.

Saya belajar untuk tidak terus menerus berencana. Membuat aturan dan syarat bagi semesta bekerja. Belajar melepas semua keinginan, berfokus pada tujuan dan percaya.. Bahwa akan selalu ada ujung di setiap lorong. Apapun yang semesta beri, adalah yang terbaik yang kita butuhkan. Bukan yang kita inginkan.

Saya hanya harus terus berjalan dalam keyakinan dan menyalakan sudut-sudut gelap yang saya lewati. Untuk sementara.. Beri arti pada kehidupan di sekitar yang telah di lalui. Karena hidup adalah tentang memberi arti.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert