Skip to main content

Simplify, but not Stingy!

Beli barang murah, tapi ternyata tidak tahan lama, cepat rusak, lalu beli yang baru tak lama setelahnya. Pernah begitu?

***

Ada satu klien yang kami tangani, dengan kasus agak unik. Mereka gagal melewati tahap review dari Panel, karena alasan justifikasi ilmiahnya lemah (dalam penilaian Nilai Konservasi Tinggi). Sehingga laporan mereka ditolak, dan klien tersebut harus mencari konsultan lain untuk melakukan penilaian ulang.

***

Pernah juga pada suatu kali perjalanan assessment, seperti biasa pihak klien yang mengurusi semua akomodasi dan transportasi. Kami diberangkatkan dengan maskapai Garuda pada awal keberangkatan, dengan connecting flight hingga ke bandara kecil di pelosok Kalimantan.

Namun pada saat kepulangan, pihak client sudah membelikan tiket jauh-jauh hari (seminggu sebelum adanya keputusan jadwal) dengan maskapai Citilink dan Kalstar. Meski kecewa, kami tahan dalam hati, karena tidak etis mengeluhkan merk, meskipun sebagai konsultan yang sering bepergian dengan pesawat, kami sangat terbiasa dengan maskapai Garuda.

Ternyata, jadwal kepulangan bergeser. Karena ada hal yang harus diklarifikasi kembali pada saat di lapangan. Jadwal yang tidak tentu ini sudah sangat akrab bagi konsultan seperti kami. Lantas, bagaimana dengan tiket yang sudah terbeli?

Entah di refund atau hangus, yang jelas tiket kami diganti dengan Garuda pada penerbangan selanjutnya. Karena pada hari itu, hanya ada Garuda yang sesuai dengan jadwal kepulangan.

***

Masih tentang pesawat, di lain kesempatan dengan dua penerbangan kami lagi-lagi dibelikan Kalstar - Citilink. Bukan connecting flight sehingga kami harus ambil bagasi dan check in ulang di bandara kedatangan.

Maskapai semacam Kalstar memang sulit dijamin ketepatan waktunya. Sehingga penerbangan kami ditunda (tanpa konfirmasi) yang mengakibatkan terlambatnya kami di bandara tujuan untuk mengejar pesawat selanjutnya. Tiket yang pihak klien pesan, hanya selisih satu jam antara mendarat dengan Kalstar dan keberangkatan dengan Citilink.

Pada saat kami turun dari pesawat, Citilink yang akan menerbangkan kami ke Jakarta sudah siap lepas landas.

Pihak klien dengan sigap menawarkan tiga opsi maskapai, yang kami pilih Garuda karena kesesuaian jadwalnya. Akhirnya.. Ujung-ujungnya Garuda. Batin saya saat itu.

***

Apa korelasi dari tiga cerita di atas?

Yaitu ketika orang mau hemat.. Eh malah jebol alias boros. Yang tadinya mau menggunakan jasa konsultan yang (mungkin) di bawah rate standar, malah jadi harus dua kali menyewa jasa konsultan berbeda karena kegagalan yang dialami.

Yang tadinya mau hemat dengan pesan tiket jauh-jauh hari, malah jadi hangus dan dua kali beli karena jadwal yang bergeser. Dan yang tadinya mau hemat dengan membelikan maskapai biasa, malah jadi harus belikan tiket ulang karena ketidak adanya jaminan jika penerbangan ditunda.

***

Kita semua mungkin sepakat bahwa uang tidak bisa mendatangkan kebahagiaan. Saya sepakat, bahwa uang tidak bisa mendatangkan kebahagiaan ~ jika disimpan saja.

Lain halnya dengan jika uang tersebut digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat dan membahagiakan diri sendiri atau orang lain.

Semua itu terserah pada kita, apakah akan membeli sesuatu yang membuat bahagia, atau menyimpan-menghemat-hemat hingga tertumpuk banyak untuk alasan entah apa.

***

Sejak saya menemukan prinsip minimalism, saya menjadi mengerti arti penting sebuah nilai. Letaknya bukan pada harga, namun pada getaran menyenangkan saat saya menyentuh benda yang ingin saya beli.

Umumnya, benda yang kita sukai, atau benda yang mendatangkan bahagia dihargai lebih mahal oleh pihak produsen. Ada harga ada kualitas, kata pedagang di pasar sambil mengipas-ngipas.

Orang cenderung menyukai benda yang bagus, yang bahannya kokoh, dan design nya menarik. Benda seperti itu, tentu dikerjakan dengan nilai lebih oleh pembuatnya. Menggunakan bahan berkualitas, dibuat dengan penuh kehati-hatian, dan di tata dengan perasaan sedemikian rupa sehingga menarik untuk dilihat. Itu sebabnya, barang bagus, juga punya harga yang 'bagus'.

Kesalahan kebanyakan perempuan, terutama ibu-ibu adalah menginginkan benda yang murah, dalam jumlah banyak.

Gak apa murah, yang penting banyak. Bisa buat ganti-ganti.

Pemikiran semacam itu lumrah dikalangan para ibu yang punya anak lebih dari satu. Mungkin efisiensi dan penghematan tujuannya. Karena ia harus berlaku adil pada semua anaknya.. Biar semua kebagian.

Tapi bagi saya, jika saya benar-benar membutuhkan benda itu, maka saya akan membeli dengan kualitas terbaik, yang membuat saya senang ketika menyentuhnya. Mahal? Tentu. Untuk sesuatu yang dibutuhkan, harga mahal mestinya tidak menjadi masalah. Karena kita semua sepakat bahwa uang tidak mendatangkan kebahagiaan, untuk apa disimpan? Benda ini kita butuh loh.. Untuk apa menyisihkan uang pada sesuatu yang entah tidak tahu akan digunakan kemana.

Misalnya, saya ingin membeli ember. Saya akan berpikir, ember seperti apa yang saya inginkan. Mulai dari warna, ketebalan plastik, dan bentuk. Setelah itu saya akan mulai mencari, di toko dan supermarket. Jika saya belum menemukan ember dengan kriteria yang sudah ada di pikiran saya, maka saya lebih memilih menunda dan mencari di tempat lain. Saya akan mencari hingga ke pasar dan toko kelontong jika belum juga menemukan ember yang membuat saya senang ketika melihatnya.

Katakanlah saya hanya punya uang lima puluh ribu, ketika saya menemukan ember yang sesuai dengan kriteria saya. Rupanya ember itu harganya empat puluh ribu. Jika saya membelinya, maka uang saya hanya akan tersisa sepuluh ribu.

Disebelahnya ada ember berbentuk biasa dengan warna biasa dan kualitas plastik lebih rendah dari ember yang saya inginkan. Harganya dua puluh lima ribu. Jauh lebih murah.

Dengan prinsip minimalist, saya memilih ember seharga empat puluh ribu tadi, dan sedikit menawar harga. Tawar menawar pun terjadi, dan saya berhasil membawa pulang ember itu dengan harga lebih rendah.

Tapi bagaimana jika saya tidak punya uang? Jika uang saya hanya dua puluh lima ribu?

Saya tetap tidak akan membeli ember yang berbentuk biasa itu, karena it doesn't spark joy to me. Saya akan pulang, menyimpan uang saya dan menunggu hingga tabungan saya cukup untuk membeli ember empat puluh ribu.

Lalu bagaimana dengan kebutuhan? Ember kan butuh? Kan mau dipakai mencuci?

Disitulah kenapa minimalist harus kreatif mencari solusi. Percayalah, setiap keterbatasan pasti akan mendatangkan kreatifitas.

Saya bisa mengetuk pintu rumah tetangga dan meminjam embernya yang sedang tidak dipakai. Selain berlatih bersabar, ada hal positif lain yang didapat, yaitu interaksi. Saya jadi bisa mengobrol sebentar dengan tetangga. Mendekatkan diri dan sekaligus membuka silaturahmi. Sampai nanti uang saya cukup untuk membeli ember sendiri.

***

Kita tidak akan pernah kekurangan hanya karena membeli barang lebih mahal dibanding barang sejenis. Jika itu membuat bahagia, sebaiknya kejar tanpa mengindahkan harga. Karena jika itu kebutuhan, kita akan mengerahkan energi untuk bisa mendapatkan benda yang kita mau. Entah itu dengan bekerja lebih keras, atau berhemat.

Ada nilai dibalik benda tersebut ketika kita mendapatkannya. Selain kepuasan, juga ada perjuangan. Setiap kali kita melihat benda itu, kita teringat akan pengorbanan yang telah dilakukan untuk mendapatkannya, dan membuat kita jadi lebih sayang pada benda tersebut.

Percaya atau tidak, benda pun memahami bahasa kita. Dia tahu jika disenangi atau tidak. Jika dibutuhkan atau tidak.

***

Bagaimana dengan benda yang tidak kita butuhkan tetapi jika ada di rumah maka akan membantu mempermudah hidup sehari-hari?

Jika tidak dibutuhkan, berarti diinginkan. Dan keinginan., tentu tidak ada habisnya. Ingin benda satu, besok ingin yang lain. Setelah terpenuhi, ingin lagi yang lain lagi.

Maka sebelum menginginkan sesuatu, sebaiknya lakukan dialog dengan diri sendiri.

Kenapa kita menginginkan benda ini? Agar terlihat keren? Agar dipermudah? Atau karena 'ingin punya' saja?

Seriously the third reason is the worst.

Menjadi minimalist adalah tentang menekan keinginan. Semakin sedikit yang diinginkan, maka akan semakin lega hati dan pikiran. Keinginan adalah hawa nafsu. Yang Umat Muslim perangi selama sebulan setiap tahunnya.

Tidak ada hal baik yang didatangkan oleh hawa nafsu yang dituruti terus menerus.

***

Berhemat bukan berarti membeli lebih murah.

Berhemat berarti berhenti membeli produk yang tidak kita butuhkan. Jika hanya sebatas keinginan, tinggalkan.

Jika kita butuhkan suatu benda, maka berhemat bukan berarti membeli dengan kualitas rendah dalam jumlah banyak. Melainkan membeli dalam jumlah CUKUP dengan kualitas terjamin.

***

Sebagai perempuan, kita dituntut untuk cerdas. Terutama dalam urusan finansial. Meskipun kita adalah perempuan yang pintar dalam mencari uang - berkarir mapan dan dibutuhkan di bidangnya.

Ketrampilan seorang perempuan dalam mengubah sesuatu yang tadinya tidak berguna menjadi berguna, adalah harus. Termasuk ketrampilan menyiasati kekurangan.

Perempuan akan menjadi ibu. Dan ibu harus bisa kreatif agar melahirkan anak yang juga kreatif. Hanya kreatifitas yang bisa menolong seorang anak di masa depannya kelak.

Seorang kepala desa di Kabupaten Sekadau berkata pada saya "dari jaman dulu, perempuan disini harus bisa menganyam rotan. Membuat keranjang-keranjang atau topi caping untuk dipakai menoreh karet. Kalau belum bisa menganyam, maka belum boleh dijodohkan. Supaya nanti tidak semua perabot harus beli, kalau terus-terusan membeli, kasian suaminya nanti"
Ujar beliau tergelak.

***

Saat ini saya butuh tatakan gelas, agar meja tidak terkena panas ketika saya meminum kopi atau teh yang diletakkan di meja.

Setelah saya telusuri, jenis tatakan gelas yang saya inginkan tidak dijual di Indonesia. Yang ada di toko-toko tidak sesuai dengan imajinasi saya tentang tatakan gelas - yang matching dengan meja kopi di rumah.

Untuk itu saya putuskan untuk membuat sendiri tatakan gelas tersebut dan hasilnya?...

Taraaaa

Sabar ya.. Akan saya publish jika sudah waktunya. Hehe

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert