Skip to main content

Pelajaran dari Sebuah Buku

Biar saya ceritakan tentang sebuah buku, yang membawa saya pada banyaknya pelajaran terutama di hari ini. Bukan karena saya telah membaca buku itu, dan justru sebaliknya.

***

Ada sebuah paham yang saya yakini mempengaruhi karakter seorang manusia. Paham yang asalnya dari semesta. Paham yang saya yakini itu, akan terdengar bodoh dan tidak logis bagi sebagian orang, dan terdengar amat masuk akal bagi sebagian lain.

Salah satu teman saya, termasuk ke dalam orang yang menganggap paham itu adalah sesuatu yang sulit untuk dipercaya. Apalagi dijadikan pegangan. (Meskipun saya juga tidak menjadikan paham itu sebagai pegangan), namun saya berusaha meyakinkannya bahwa tentu ada rahasia semesta yang menjadikan paham itu lahir dan diturunkan sejak ratusan generasi.

Untuk meyakinkannya, saya butuh bukti ilmiah. Karena teman saya ini adalah seorang cerdas yang hanya bisa menerima hal-hal dengan penjelasan yang juga cerdas. Maka suatu ketika, dengan impulsive saya berkata.. "Baiklah, tunggu hingga dirimu berulang tahun, akan saya berikan sebuah pencerahan" yang dimaksud saat itu adalah buku.

Padahal, ketika itu saya tidak benar-benar yakin buku apa yang akan saya beri. Tapi saya tetap percaya diri dan meniatkan dalam hati untuk menemukan buku itu. Saya yakin, pasti ada buku yang menjelaskan mengenai paham yang saya yakini, secara ilmiah. Dunia kan luas.

***

Satu bulan setelahnya baru saya ingat tentang janji ulang tahun. Ulang tahunnya masih jauh, tentu. Tapi saya harus siapkan buku yang tepat untuk diberi.

Setiap malam saya habiskan untuk mencari tulisan, artikel, mengenai paham yang saya yakini. Tetapi tidak ada satupun yang menerangkan sumber bacaan mereka. Artikel-artikel itu lama kelamaan menjadi kosong bagi saya karena dari website yang satu dan lainnya, nyaris serupa.

Saya bahkan mengirim email pada beberapa penulis artikel yang tulisannya relevan dengan pencarian saya, untuk bertanya tentang buku apa yang mereka baca, atau apakah mereka menulis buku tentang itu.

Saya mencoba semua aplikasi pencari buku. Mengontak admin-admin toko buku import terkenal. Hingga mencari di dalam forum-forum.

Sampai akhirnya, di suatu malam penghujung Ramadhan, saya menemukan satu buku. Buku yang pas dan paling tepat. Buku yang juga membuat saya penasaran dengan isinya, dan bertekad akan membacanya terlebih dahulu sebelum diberikan pada teman saya yang keras kepala itu.

Selanjutnya saya menelusuri sejarah si penulis buku. Seorang barat yang mendedikasikan hidupnya di cemooh oleh kalangannya, karena memilih untuk mengulas suatu paham yang dianggap konyol dan tidak ilmiah. Wah ini cocok sekali, saya pikir. Karena dia berlatar belakang ilmu sains. Ada satu lagi penulis dengan nada serupa, tetapi ia tidak dari basic yang sama.

Buku dan penulis pilihan saya ini adalah yang terbaik sepanjang penelusuran saya. Saya bahkan menonton beberapa video yang menampilkan dirinya menjelaskan tentang 'ilmu' yang dicemooh itu. Hingga akhirnya saya memantapkan diri memilih buku yang diterbitkan pada tahun yang sama ketika saya lahir.

Buku itu adalah langka. Karena sudah tidak lagi di cetak, dan hanya tersisa buku bekas.

Berkali-kali saya mencoba membeli dari situs belanja online antar negara, yang selalu gagal. Segala metode pembayaran saya coba, mulai dari pinjam kartu kredit teman kantor, menggunakan kartu debit sendiri, hingga akhirnya saya mem follow up aplikasi kartu kredit saya yang telah tertunda dua bulan.

Semua gagal. Di hari pertama kartu kredit saya sampai, dua buah dengan nominal menggiurkan, hal pertama yang saya lakukan setelah kedua kartu itu aktif adalah membeli buku itu dari situs belanja online. dan gagal.

Tidak putus asa, saya masuk ke rencana B. Mencari di pusat toko buku bekas.

Yaitu yang hari ini saya tempuh sejak pkl sebelas siang hingga pukul satu dini hari. Dengan bis yang hendak kami tumpangi tidak beroperasi, menumpang bis jurusan lain dan turun ditengah jalan, terpisah (saya ditemani teman serumah saya yang juga penasaran dengan tempat buku bekas dan piringan hitam yang tersohor itu) karena kami menumpang ojek berbeda, hingga berputar dari penjual ke penjual menghabiskan seluruh lantai dan hanya mendapati gelengan kepala.

Saya mencari hingga gelap. Hingga nyaris tutup dan nihil.

***

Sepanjang proses pencarian, saya dan teman serumah terus berbincang. Tentang apa saja. Bahkan saat istirahat untuk solat dan makan pun kami berbincang. Yang saya sesali kemudian. Karena isi obrolannya adalah.. Membahas orang lain.

Saya pikir, saya sudah cukup bahagia menelan semua keluh kesah sendirian, (atau dengan website), tanpa perlu menumpahkan ke orang lain. tentang bagaimana saya pernah ditusuk dari belakang. tentang seorang yang tidak senang terhadap saya. Dan tentang menghadapi orang lame. Energi negatif tanpa sadar saya pancarkan. Sudah lama sejak terakhir kali saya membahas hal se sensitif ini pada orang lain.. dan efeknya langsung terasa.

Saya yang biasanya bahagia dan berpikir positif, menjadi resah setelah mengeluarkan itu semua. Saya menjadi merasa bersalah ketika diam menyapa.  Am I talk too much? Meskipun yang membuat saya bicara adalah pertanyaan-yang memancing dari teman saya.

Pukul sembilan kami memutuskan pulang. Toko-toko buku sudah tutup dan tidak satupun mempunyai buku yang saya inginkan. Not even close. Wah.. Saya pikir jangan-jangan ini salah satu efek energi negatif.

Di perjalanan pulang, kami mampir di terminal tempat awal menumpang bis. Bermaksud mengambil motor yang terparkir. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas dan terminal sudah sepi. Penjaga motor sudah tidur. Kami harus membangunkan si penjaga motor.

Tidak lama berjalan, saya merasa ada yang aneh di bagian belakang. saya tahu itu apa, namun saya memilih untuk tidak bereaksi. Tidak ingin memperkeruh keadaan karena tadi di mobil-uber dari stasiun ke terminal, sempat dimarahi oleh si sopir karena mengajaknya masuk terminal lewat jalur yang mestinya digunakan untuk keluar.

Ban belakang bocor, saya tahu itu. Dengan terpaksa saya meminta teman saya untuk turun dan kami mencari tambal ban. Dua tukang tambal ban tutup. Wajar saja, sudaj nyaris pukul satu dini hari.

Setelah berjalan kaki kurang lebih dua kilometer, barulah kami dapati tukang tambal ban yang masih buka. Berkat arahan dari tukang ojek, tentara yang sedang duduk-duduk di saung, serta pemuda yang berhenti untuk menawarkan tumpangan bagi teman saya.

Seperti pukulan keras bahwa saya sudah terlalu banyak bicara, dan membicarakan keburukan orang lain, semesta menghukum saya dengan tidak mengabulkan permintaan saya untuk mendapatkan buku itu, serta berolahraga tengah malam melewati jalanan sepi dan gelap tanpa lampu jalan di daerah yang terkenal rawan.

***
Hari ini saya belajar, bersyukur saja tidak cukup untuk menjadikan hidup lebih bahagia.

Kita perlu mampu untuk mengusir energi negatif. Apapun yang masuk atau sekedar mampir. Mengusir energi negatif, seberapa marah dan sakit hatinya kita. Tidak perlu disimpan untuk nanti dijadikan senjata.

Jika kita marah, usahakan relax. Jangan simpan dendam untuk nanti diceritakan pada orang lain. Biar orang lain saja yang menilai seperti apa kemarahan kita.

Jika sedih, tidak perlu sibuk mencari senderan. Simpan sendiri saja untuk sendiri.

Seperti halnya bahahia, sedih, marah, dan takut pun suatu waktu akan berakhir. Tidak semua hal perlu diselesaikan dengan bicara atau pengungkapan. Beberapa ada yang hanya perlu disimpan, dirasakan sendiri, lalu dibuang. Karena beberapa kesalahan, ada yang bisa diperbaiki dan ada juga yang memang sudah seperti itu adanya. Bahkan Tuhan pun tidak merubah suatu kaum jika bukan kaum itu sendiri yang menghendaki.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …