Skip to main content

Moving Out

Dua hari ini saya disibukkan dengan pindah-memindah barang. Sejak memutuskan untuk pindah dan memulai hari di tempat yang baru, saya tahu pasti akan ada banyak kendala. Mulai dari memberitahu teman satu kost yang selama ini sering menghabiskan waktu bersama, sampai memindahkan semua barang yang sudah tertumpuk selama bertahun-tahun.

Kamar kost sudah menjadi zona nyaman bagi saya, and nothing grows in comfort zone. Memutuskan untuk pindah di ruang yang benar-benar kosong, menjadi tantangan apakah saya akan menerapkan prinsip minimalism atau hanya semboyan belaka.

The truth is, minimalism bukan saja soal ruang. Bukan saja soal sedikitnya barang, dan putihnya dinding kamar. Minimalism lebih dari sekedar urusan benda-fisik, karena ini menyangkut keikhlasan merelakan pergi, dan memilih apa yang akan dipertahankan dalam jumlah yang wajar.

Semua orang datang dengan 'bawaannya' masing-masing. Semakin banyak yang dipertahankan, tentu akan semakin berat langkahnya ke depan.

Beberapa waktu lalu saya sudah mengeluarkan dua box barang-kenangan yang tidak lagi add value dalam hidup saya. Sekarang ini pun saya masih merasa perlu untuk melepaskan benda yang tersisa. Maka sembari berkemas, saya pun sambil memilah mana yang akan saya bawa dan tidak.

***

Rumah baru yg saya tempati, bukan rumah yang saya beli. Artinya, dalam beberapa bulan ke depan saya harus bisa menahan diri untuk tidak melengkapi rumah ini dengan furniture dan kelengkapan lainnya, demi menjaga langkah tetap ringan ketika harus berpindah ke rumah saya nanti.

I love Joshua Becker’s definition of minimalism as “the intentional promotion of the things we most value and the removal of everything that distracts us from it.”

Tentu saja dengan sedikitnya barang yg saya pilih, saya menjadi lebih ringan, tenang, tidak perlu khawatir dimana meletakkan barang ini dan itu, juga tidak perlu kesal ketika melihat benda terserak sembarangan. Karena semua yang 'lolos seleksi' dan ikut ke rumah baru, semuanya adalah benda yang saya sukai. Melihat mereka, membuat saya senang. Itu tujuan utama minimalism, menciptakan ketenangan.

***

Satu cara saya ketika saya bimbang apakah membuang/menyimpan satu barang: yaitu dengan mengenakannya. Misal, saya punya sendal rumah dengan kepala minnie mouse besar. Sendal itu berwarna merah menyala, warna kesukaan saya dulu sewaktu masih kanak-kanak. Sekarang warna kesukaan saya sudah berubah. Pun minnie mouse bukan lagi menjadi karakter favorit. Tapi sendal itu adalah pemberian ayah saya, dan pernah menjadi benda yang paling saya sayangi. Melepasnya, seperti melepas bagian dari memori remaja saya. Akhirnya saya masukkan sendal itu kedalam box to keep.

Selang beberapa jam, saya kembali menengok box tadi. Rupanya sendal itu menghabiskan banyak sekali ruang di dalam box. Terbersit ragu, apakah benar saya ingin menyimpannya?

Setelah diam sesaat.. (Reminiscing) akhirnya saya memutuskan untuk mengenakan sendal minnie mouse dan melanjutkan berkemas.

Saya teringat beberapa hal bodoh yang saya lakukan di masa ketika sendal itu menjadi favorit saya. Hal-hal yang saya ucapkan dengan yakin dan menggebu, moment ketika saya dengan beraninya tampil tanpa berpikir dua kali, hal bodoh yang membuat saya geli sendiri. Anak muda memang konyol. Yang membuat saya sadar bahwa saya tidak boleh meremehkan anak muda yang berbuat hal bodoh, karena saya pun dulu begitu. Dan karena itulah saya belajar menjadi diri yang sekarang.

Sambil berkemas, saya tersenyum geli sendiri. Sepasang sendal merah mampu mengembalikan memori itu tanpa dipinta. Tapi... Apa gunanya? Memori yang terkenang saat itu, tidak lagi akan merubah apapun dalam hidup saya yang sekarang. Pelajarannya pun sudah disaring dan dipraktekkan. Tidak perlu lagi mengingat the why.

Satu jam berlalu, dan saya mulai kepanasan. Kepala minnie mouse yang berada di ujung jari kaki, terlalu tebal untuk menjadi sendal. Kaki saya seperti tidak bisa bernapas, dan kurang nyaman.

Saat itulah saya tahu. Sendal ini adalah benda dari masa lalu. Dia hanya memancarkan ingatan masa lalu, tanpa ada nilai tambah di dalamnya. Fungsi dalam kehidupan sehari-hari pun minim sekali. Membuatnya hanya menjadi benda yang tidak signifikan manfaatnya.

Maka saya lepas, saya simpan di dalam box to donate bersama dengan boneka-boneka lainnya. Sebelumnya, sesuai yang diajarkan Kon Marie, saya berterimakasih pada sendal minnie mouse karena sudah menemani hidup saya selama ini. Gratitude yang membuat kita bahagia. Dalam Islam juga diajarkan, semakin kita bersyukur maka Allah akan menambah nikmat bagi kita.

Saya berterimakasih, dan berharap semoga sendal ini akan bermanfaat bagi pemiliknya yang baru. Akan membuat bahagia orang lain entah siapa, dan positive vibe yang dia pancarkan akan menular pada orang lain di lingkungan sekitarnya.

***

Do you believe in vibe?
Have you ever heard the 'String Theory'?

Well, we'll discuss about that later. Tapi untuk sekarang, saya bersyukur bisa melewatkan malam di tempat baru dengan bahagia, tanpa kekurangan sesuatu apapun meski separuh dari benda saya tidak lagi ikut serta dalam perjalanan ke depan.

Life is a constant change of phase. Nothing will remain the same, under this big-bright Sun.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …