Skip to main content

Less is More

Sebuah panggilan tak terjawab bertengger manis di ponsel saya sore tadi. Menjelang jam pulang kantor, sengaja saya tinggalkan ponsel agar bisa cepat menyelesaikan pekerjaan. Besok saya sudah minta izin untuk tidak masuk karena tukang furniture akan datang menginstall barang-barang yang sudah kami beli beberapa hari lalu. Mestinya hari ini barang-barang itu diantar ke rumah, kami pun sudah menitipkan kunci ke tetangga sebelah.

Biasanya setiap kali ada panggilan tak terjawab, saya akan biarkan sebentar. Karena kalau urusan kerja, mereka pasti akan mengirim pesan whatsapp sebagai tindak lanjut. Tapi yang satu ini beda. Dari segi nomor jelas bukan nomor rekan kerja-atau klien- atau bank- asuransi- atau orang penting. Nomor biasa-biasa dan hanya satu kali panggilan. Kalau client minimal tiga panggilan tak terjawab itu..

Meski agak ragu, saya putuskan utk telpon balik. Singkat cerita, rupanya panggilan itu adalah dari jasa pengantar furniture, mau mengkonfirmasi bahwa barang sudah diterima.

Mood saya langsung ceria. Tadinya saya berniat untuk grocery shopping sepulang kantor, karena beberapa item esensial sudah mulai habis. Namun saya batalkan dengan segera, dan langsung mengemas barang. Pulang!

***

Benar saja, sesampai di rumah, sembilan kardus besar sudah tergeletak di dua sisi rumah. Girangnya bukan main ketika mendapati the babies are here! Mungkin ini yang suka di deny oleh mereka bahwa 'money can't buy happiness'..

Roomate saya baru pulang sekitar jam sembilan, meeting sesorean dan dia pulang dengan wajah lelah. Tapi begitu melihat para 'bayi-bayi' kita sudah siap untuk dipasang.. Raut mukanya berubah.

***

Membelanjakan uang pada target yang tepat adalah cara seseorang mempertahankan their positive vibe. Law of attraction, remember? Positive vibes attract positivity. Tidak usah ragu jika yang dibeli adalah sesuatu yang membuat bahagia. Dan biasanya yang bisa membuat bahagia hanya barang-barang yang kita butuhkan. Ingat ya.. BUTUHKAN. Bukan inginkan. Harus pindah menyaring mana yang dibutuhkan dan mana yang diinginkan, karena percayalah.. Membeli barang yang kita INGINKAN, bahagianya tidak akan tahan lama. Tidak akan se puas membeli barang yang dibutuhkan.

Apalagi jika seorang perempuan tidak bisa memilah mana yang dibutuhkan dan mana yang diinginkannya. Bisa-bisa postingan tentang 'membahagiakan istri adalah sumber rejeki suami' menjadi semakin sering. Haha.

Kita tidak bisa mengatur jumlah penghasilan yang kita dapat, tidak bisa mengatur seberapa banyak rejeki yang akan datang pada kita. Tapi kita bisa mengatur seberapa bijak pola konsumsi terhadap benda-benda yang kita perlukan. Hujan bisa datang kapan saja, dan sebaliknya. Tapi keran pengeluaran, kita yang memilih, kapan bisa dibuka dan kapan bisa ditutup.

***

Perempuan dan keinginan.. Ah saya termasuk yang bosan mendengar perempuan berbicara tentang ingin ini dan itu. Saya pun masih begitu, dan sedang berusaha keras untuk menekan semuanya.

Menekan keinginan-keinginan yang.... saya tahu, tanpa itu pun saya masih bisa bahagia. Saya sadar bahwa bahagia saya tidak boleh bergantung pada keinginan-keinginan yang saya pendam.

Kenapa tidak kita coba lepaskan keinginan -apapun - yang selama ini tanpa kita sadar, telah menggelayut dan membebani hari kita? Want less, and work more. Jika 'keinginan' diibaratkan sebagai batu kecil, yang tidak apa jika disimpan, maka bayangkan jika batu kecil itu bertumpuk banyak sekali. Di simpan di saku baju, celana, tas, semakin lama semakin memberatkan. Bukan saja karena jumlahnya yang semakin banyak seiring langkah, tapi karena kita telah membawanya sekian lama.

Segelas air yang tidak berat pun akan menjadi berat jika terlalu lama di pegang.

'Keinginan' yang kita pendam, akan memberatkan langkah, memperlambat progress, dan yang paling buruk: mengurangi rasa syukur.

Kita berjalan membawa batu seberat tiga kilogram di pinggir pantai pasir putih yang indah.... Tentu fokus pikiran kita akan tersita dengan menggerutu betapa berat batu yg kita bawa, ketimbang menikmati indah birunya laut dan pantai yang terbentang.

Holding on to something you want, is not hope. It's a stone, that make you forget to live and look around.

Hope... In the other hand.. Is when you want something, you work on it, and be positive that it will work out. Even if it's not working, you have faith in your heart that everything will end very well.

Kalau 'keinginan' tidak begitu. Biasanya orientasi seseorang menginginkan sesuatu ada pada objek benda mati: ingin rumah, ingin mobil, ingin perhiasan, yang sebetulnya bukan tanpa itu semua pun dia sudah bisa bahagia. Tapi bahagianya tertunda karena menunggu keinginan itu terwujud dulu.

***

Dengan mempelajari prinsip minimalis, saya ingin menjadi pribadi yang tidak punya keinginan. Belajar bagaimana mengendalikan hawa nafsu, pada benda-benda yang akan membuat saya 'terlihat' di mata orang lain. Ramadhan mengajarkan umat muslim di seluruh dunia untuk bisa mengendalikan itu semua, semestinya pelajaran dari tiga puluh hari tempaan itu tidak dilupakan begitu takbir berkumandang.

Anything is possible, if you got enough nerve -JK Rowling-

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …