Skip to main content

Every Little Moment

Ketika seseorang sudah memutuskan untuk berubah, akan sangat bijak jika kita tidak mengungkit masa lalunya lagi. Bukan saja itu bisa menyakiti perasaannya yang sudah bersusah payah mengubur - melupakan - atau berdamai dengan masa lalu itu, tetapi juga menjadikan kita sebagai orang yang ignorant, lack of empathy, dan tidak layak dijadikan teman.

Setiap orang pasti mengalami perubahan dalam hidupnya. As we woke up new each and every morning. Dalam Islam kita dianjurkan untuk menjadi lebih baik dari hari kehari, karena merugi orang yang tetap sama dengan hari kemarin, dan celaka/sial bagi orang yang lebih buruk dari hari kemarin.

Seorang teman pernah berkata, 'people change. Accept it' saat saya bertanya alasan kenapa dia mendadak berubah menjadi dingin. Saat itu saya belum paham, bahwa siapapun baik itu teman dekat, sahabat atau bahkan pacar, bisa berubah sewaktu-waktu. People change like season, wise man once said, but today we know that people change like weather.

***

Pagi tadi seperti biasa saya dibonceng dengan sepeda motor oleh karyawan perusahaan. Kami akan menemui kepala desa yang semalam belum dapat ditemui. Seperti biasa, si bapak mengajak bicara mengenai hal-hal yang menarik baginya. Saya mendengarkan dengan seksama sambil sesekali merekam bersihnya langit pagi.

Tiba di tempat yang mereka sebut dengan 'jalan pemda'. Di kanan kiri terhampar luas padang rerumputan bergantian dengan semak belukar. Sepintas tampak seperti tidak terawat, tapi sebetulnya lahan itu masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk diambil ranting/kayu mati untuk kayu bakar. Jalanan lebar dengan tanah merah memanjang ke depan, berundak dan berbatu. Dengan santai si bapak terus memacu motor matic dengan kecepatan tinggi sambil bercerita.

"Tempat-tempat keramat itu, bu.. Tidak berani orang menebang. Pasti ada cilaka kalau ambil kayu di tempat keramat itu" ujar nya ketika kami melewati tikungan tajam berpasir merah.

Saya bergumam pelan, si bapak melanjutkan cerita. Bahwa wilayah yang akan kami petakan, yang kami sebut memiliki 'Nilai Konservasi Tinggi' kategori enam (nilai budaya dan sejarah), dipercaya memiliki kekuatan magis yang menghalangi orang untuk berbuat sembarangan. Menebang pohon adalah hal paling terlarang.

Sambil menyebutkan satu persatu nama wilayah terlarang itu, saya menengok ke kiri dan kanan. Di sebelah kiri saya adalah kebun karet yang juga ditutupi semak belukar. Hampir tidak terlihat sebagai kebun, bahkan bagi orang awam (seperti saya) tempat itu lebih terasa seperti hutan. Di sebelah kanan saya, adalah bekas hutan yang sudah kering. Seperti habis terbakar tapi nampaknya hanya ditebang. Ada beberapa motor terparkir menandakan memang ada orang sedang menebang.

Si bapak masih asyik menceritakan soal tempat keramat, jadi saya urung bertanya.. Apakah yang sedang menebang itu masyarakat lokal atau aktifitas perusahaan.

***

Pukul sepuluh dan saya sudah hampir selesai mewawancarai Pak Kades ketika terjadi keributan di luar. Kami yang penasaran tentu bereaksi cepat menengok ke jendela. Tak butuh waktu lama untuk mendapat informasi tentang apa yang terjadi.

Seorang mantan kepala desa, meninggal saat itu. Mantan kepala desa yang memimpin tepat sebelum kepala desa saat ini. Rumahnya pun hanya terpisah dua rumah dari tempat kami berdiskusi.

Beliau meninggal karena tertimpa tebangan kayu temannya sendiri, di lahan yang tadi saya lewati. Rupanya motor yang terparkir tadi adalah rombongan beliau beserta tiga orang lain yang juga masih saudara.

Suasana duka sekaligus ngeri menyelimuti. Orang yang tadinya sedang duduk-duduk menghabiskan rokok di teras rumah, berhamburan keluar. Sang istri yang ditinggalkan, menangis sejadi-jadinya memanggil sang suami.

Saya pun bergegas mengemasi barang dan menyiapkan dokumen untuk ditandatangan. Pak Kades sigap menyiapkan daftar yang harus saya isi sebagai bukti kunjungan. Sepakat dalam diam bahwa kami menyudahi sesi diskusi pagi itu.

***

Ini merupakan kali kedua saya berpapasan dengan tragedi yang melibatkan malaikat maut. Sampai detik saya menulis tulisan ini, masih ngeri membayangkan bahwa tadi.. Tanpa saya sadari, saya tengah melewati orang tak dikenal yang hendak menemui ajal. Padahal malam sebelumnya saya sempat terpikir untuk menemui beliau jika kepala desa masih susah ditemui.

Kali pertama, terjadi dua tahun lalu saat pertama kali saya melakukan Social Impact Assessment, di Kabupaten Landak Kalimantan Barat.

Saat itu kami mengunjungi rumah kepala desa yang ibunya sedang sakit. Kami diberitahu sebelumnya bahwa sang ibu yang berusia sembilan puluh tahun itu telah lama terbaring. Sehingga proses diskusi pun berjalan tanpa menimbulkan suara ribut-ribut.

Kira-kira satu jam kemudian, terdengar suara lenguhan dari bilik kamar si Ibu. Pak Kades pun diam saja dan tetap melanjutkan obrolan. Mungkin menurutnya si ibu hanya kesakitan biasa.

Lima menit kemudian, barulah kami sadar bahwa suara lenguhan tadi adalah suara kesakitan si ibu yang sedang meninggal dunia. Beliau meninggal di tengah-tengah proses diskusi. Pak Kades sigap memberesi hal yang patut ia beresi dan kamipun pamit pulang.

Saat ini baru saya menyadari, pentingnya berada di samping orang yang kita cintai. Mungkin bagi si ibu tidak apa ia 'berpulang' sendirian. Sedangkan bagi si anak, tentu ada terselip sesal seumur hidup karena tidak bisa mendampingi beliau di saat saat terakhir.

Pada moment itu.. Dalam sepersekian detik, tanpa saya ketahui.. saya berada dalam rumah yang sama dengan malaikat pencabut nyawa.

***

Ajal adalah sesuatu yang pasti, and yet we will never know how and when. So leave a little legacy, in the world that full of ignorant and forgetful people.

***

Kapan terakhir kita menikmati momen sederhana bersama orang yang kita tahu mencintai kita dengan sepenuh hati? Ibu, misalnya? Atau jangan-jangan kita terlalu sibuk mengejar orang yang kita tidak yakin betul apakah mereka mencintai kita - unconditionally - atau karena memang ada maunya.

Mengabaikan orang yang mencintai kita, tentu sangat mudah. Dan mengejar orang yang tidak mencintai kita, terasa menantang dan menyenangkan. Sampai kita sadar, bahwa waktu.. adalah arus yang tidak akan pernah berbalik. Momen yang kita lewati tidak akan pernah terulang dua kali. and before we know it, they're all long gone.

Orang yang kita cintai tidak pernah mencintai kita, dan orang yang mencintai kita sudah tidak lagi bersama kita.

***

Minimalis dalam arti luas, juga adalah tentang melepaskan perasaan. Mencintai apa yang ada sekarang, tanpa perlu risau memikirkan apa yang akan terjadi besok.

People just like things, we keep who we'd love to keep. Not those who suck the happiness out of us.

Kenapa?

Karena hidup terlalu singkat untuk membuang energi membahagiakan semua orang. Disamping itu, kita akan lupa bahwa the real value of living, ada pada bahagia orang-orang yang benar benar peduli pada kita. Yang seringkali kita lupakan dan kesampingkan, karena bagi mereka, hal sesederhana: kehadiran kita, saja sudah amat membahagiakan sehingga kita tidak merasa perlu untuk membelikan barang yang mereka butuhkan, atau mengajak mereka ke tempat-tempat indah yang mereka inginkan.

***

Saat ini, di desa tanpa sinyal komunikasi, saya belajar untuk tidak lagi sibuk mencari-cari spot bersinyal. Toh jika saya tahu kabar yang jauh disana, tidak ada yang bisa saya lakukan selain khawatir.

Instead, I try to cherish every little moment. Dan seperti biasa, langit malam dan bintangnya sanggup membuat saya termangu berjam-jam. Menikmati indah mereka dari jauh, sambil membayangkan jutaan milyaran bahkan lebih benda langit yang bertaburan disana.

Cukup dengan memandang dan mengagumi dari kejauhan, saya tidak pernah bermimpi untuk bisa mendekat pada sang bintang. Karena saya tahu, beberapa hal hanya untuk dinikmati dari jauh. Karena melihat dari dekat hanya akan menampakkan cacat.

***

Sungai Sambang, 20 July 2017 , 22:30

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert