Skip to main content

Consultant Life

Kali ini saya akan bercerita sedikit tentang keseharian saya sebagai konsultan pemula. Kalau Bahasa Sunda nya mah newbie alias nyubi (nyubian keneh ~ baru nyobain) hehe.

Kon Mari, juga seorang konsultan dalam urusan tidying up. Tugasnya adalah mendatangi rumah-rumah klien, dan menunjukkan pada mereka cara untuk merapikan dan melepaskan benda-benda yang tidak terpakai lagi.

Saya pun begitu. Bedanya, bidang konsultan yang saya jalani adalah bidang sustainability dalam perkebunan skala besar. Artinya, instead of mendatangi rumah-rumah saya mendatangi kebun-kebun yang adanya di pelosok Indonesia. Dan instead of menunjukkan mereka caranya merapikan rumah, saya menunjukkan pada client cara berproduksi secara sustainable yang bisa dilihat dari dua aspek, sosial dan lingkungan.

Karena yang saya datangi adalah kebun skala besar, bisa saja lokasinya tersebar di lima desa, lima kecamatan, bahkan lima kabupaten (serius ada yang lima kabupaten dan itu, proses penyusunan laporannya satu tahun belum rampung). Sebelum saya bisa menunjukkan caranya berproduksi secara berkelanjutan alias sustainable, terlebih dahulu saya harus mengetahui latar belakang, karakteristik, serta adat budaya yang berlaku di daerah setempat. Karena lain lubuk lain ikan.

Dengan begitu saya diharuskan mengunjungi setiap desa, bertanya dan berbincang dengan para petinggi desa, mulai dari sejarah berdirinya desa hingga hubungan dengan perusahaan. Pasti bermacam karakter manusia saya temui. Selama hampir dua tahun saya menjalankan pekerjaan ini, tak habis kagum saya pada luasnya ilmu pengetahuan Yang Maha Kuasa.

***
Bidang spesifik saya adalah sosial. Saya harus menggali adat istiadat yang berlaku, karakter dan kebiasaan masyarakat, agar bisa diterima dengan baik dan mendapat informasi memadai. Saya harus mampu berbaur. Mampu menyesuaikan sikap dengan siapa berbicara.

Saya harus bisa tetap bersikap baik pada orang yang sombong, yang membangga-banggakan diri sendiri dan membandingkan dengan orang lain. Saya harus bisa siap mendengarkan rentetan keluhan panjang seorang bapak tua yang diambil habis lahannya oleh para penguasa uang. Saya harus bisa menahan sedih mendengar cerita anak muda yang tidak kuasa menahan pedih ketika kebun karetnya ditebang habis ketika ia sedang bersekolah.

Saya pun harus bersikap memahami semua pembicaraan ketika duduk di meja makan bersama para petinggi perusahaan. Tertawa ketika mereka melontarkan lelucon, dan menjawab pertanyaan yang kadang muncul karena ingin tahu atau sekedar mengetes pengetahuan saya tentang bidang ini. Maklum, anak bawang.

Perlahan, saya merasakan ada hal yang berubah dalam diri saya. Saya menjadi lebih banyak.. Mendengarkan. Tidak sampai disitu.. Terkadang saya juga dituntut untuk bisa memahami. Sepele memang, tapi coba ingat lagi  kapan terakhir kali kita bisa mendengar dan memahami dengan telaten cerita yang dituturkan oleh orang terdekat kita?

Biasanya saya hanya sampai pada tahap mendengar. Tanpa mau melihat lebih dalam apa maksud dari cerita yang dia sampaikan. Bagaimana emosi yang berkecamuk dalam pikirannya saat itu.  dan apa yang ia pikirkan ketika menceritakannya kembali pada saya.

Sederhananya begini, ada kawan lama bertemu kembali. Kami saling bertukar cerita mengenai pekerjaan masing-masing. Kemudian keluarlah keluhan dari dia tentang pekerjaannya.

Pada tahap mendengarkan, saya akan membalas dengan 'resign saja. Toh masih banyak kerjaan yang lebih worthy' atau 'yah.. Segitu mah semua orang juga ngalamin'

Tapi, pada tahap memahami, saya tidak hanya mendengar isi keluhannya tapi juga perubahan nada suaranya ketika menuturkan itu. Kemudian saya akan menangkap, apakah memang ia sedang mengeluh untuk mencari solusi, atau sekedar mengeluarkan isi hati agar dapat dipahami. Tentu ada perbedaan antara orang yg bercerita untuk mendapat jalan keluar, dan orang yang hanya ingin didengarkan, dipahami, dan didukung.

Maka dalam tahap memahami, saya bisa mengerti bahwa teman saya hanya sedang emosi sesaat. Bahwa dia hanya ingin didengarkan. Dan dalam diam itupun saya mendapat pelajaran, bahwa apa yang dia alami, bisa juga terjadi pada saya. Atau lebih buruk.. Bisa saja sayapun melakukan hal yg sama pada orang lain tanpa sadar.

***
Mendengarkan.

Semakin saya mendengarkan tutur cerita orang lain, semakin saya sulit untuk bercerita tentang diri sendiri. Bukan karena tidak percaya diri, tapi lebih karena.. Saya tidak yakin dia akan memahami sudut yang sama.

So if you really wanna change your life, its not minimalism as the only way. Bisa dimulai dengan mendengarkan. Mendengarkan alam sekitar. Mendengarkan bisikan semesta. Mendengarkan hati kecil kita.

Look around before we decide to need something. Listen to our heart, what does it says about it.

Karena terkadang, kita terlalu banyak bicara ingin ini dan itu, tanpa mau mendengar bahwa sebenarnya kita sudah memiliki lebih dari cukup.

Sungai Sambang, 18 Juli 2017. 20:47

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert