Skip to main content

Complainer Procrastinator

Seringkali stress timbul karena pengaturan yang kurang rapi, baik dalam hidup maupun bekerja. Saya pernah melihat sebuah ruang kantor yang bertempelkan big white board besar seukuran nyaris separuh ruangan. Papan itu penuh dengan tulisan, daftar panjang tugas yang belum rampung dikerjakan.

Ada tiga sampai empat puluh poin yang ditulis dengan sloppy handwriting. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan memampang daftar tugas besar-besar jika itu membuat yang bersangkutan bahagia. Lain hal jika di dalam ruangan itu, ada orang yang tidak senang dengan tembok penuh atau daftar daftar.

Mendaftar tugas sejatinya bagus untuk ego. Its feeding the ego, to show people how hard we work. To show people that here is our busy schedule. Beside that? The lists only make things messier, not easier.

Ketika seseorang masuk ke dalam ruangan, perhatiannya akan tertuju pada ruang secara keseluruhan. Semua dilihat sekilas termasuk  tiga atau empat puluh daftar yang terpampang memenuhi dinding. Tentu orang tidak akan benar-benar melihat satu persatu daftar yang ditulis. Untuk apa?

Apa yang dihasilkan oleh pandangan sekilas? Kesan!
Apa yang akan dibawa pulang oleh seseorang? Kesan!

Menunjukkan bxetapa berat pekerjaan kita pada orang lain, tidak akan berbuah apapun. Orang hanya akan bersimpati tapi tidak berempati. Itu untuk orang-orang terdekat, bagaimana dengan orang yg tidak terlalu dekat? Tentu merasa kesal, dianggap remeh, atau.. yah.. tidak peduli. Jadi energi yang sudah susah payah di keluarkan itu berakhir dengan tidak dipedulikan. Whaaat?

***

Marie Kondo dalam bukunya berulang kali menekankan pentingnya categorizing, merapikan rumah dalam kategori-kategori; pakaian, peralatan dapur, buku dan kertas, dan seterusnya. Begitupun peletakannya bukan didasari oleh tingkat keterjangkauan, tetapi berdasarkan kategori. Selain rapi, pengkategorian ini akan memudahkan pencarian. Orang jadi gampang stress jika sering kehilangan sesuatu, mencari-cari barang tapi tidak ketemu, maka dengan mengkategorikan penempatan ini akan semakin mudah mengetahui apakah barang yang dicari masih ada atau tidak ada.

Tanpa sadar, dengan membuat daftar panjang dan dipampang besar-besar justru membuat semakin tidak produktif. Daftar dipajang agar mudah mengingat tugas, tapi malah membuat sering terlihat, sering terlintas di pikiran, dan berusaha dilupakan. Funny how something that suppose to be a reminder, be something we desperately erase from mind.

Setiap kali dilihat, daftar panjang membuat dia sadar menumpuknya tugas. Ia terbebani dengan tanggung jawab, merasa lelah padahal tidak melakukan aktifitas apa-apa, dan mulai mengeluh beratnya pekerjaan. Sering menghela napas berat, mengeluh, lalu mulai menyuarakan negativity. Ketimbang menyelesaikan satu persatu daftar, dia malah menunda-nunda dan mencari pembenaran untuk bisa menikmati hiburan. Pergi ke suatu tempat dengan alasan menenangkan diri, lari ke bioskop, restaurant, apapun dilakukan demi menghilangkan stress - yang justru menambah stress - karena daftar panjang itu tdk menyelesaikan dirinya sendiri.

***

Lantas bagaimana jika kita punya tigapuluh - empat puluh - seratus tugas utk diselesaikan?

Bagaimana cara memonitornya agar tidak lupa?

Pertama, if you are the boss, rely on your self! Don't ever think that everybody will be there to help you. Director only care about result, and your staff is following your command. Don't humiliate your self by putting monitoring task to your staff. Its the worst boss can do. Even if you have an assisstant, she will only write the task for you and remember the tasks for you. Its you who decide, whether to remember it or no.

Kedua, use digital world. Its 2017, you don't have to write on white board anymore. Make the most of the expensive gadget you buy. It has spread sheet, it has task organizer, it has every damn work-app you need. Why white board? Especially if you're the one who travel a lot. White board only make you forget tasks easily, and when the director ask,, all you can say is: sorry I forgot! I wrote that down but am not taking the white board with me.

'Oh tapi saya tidak biasa dengan daftar secara digital. Saya bisanya dengan tulis manual. Saya tidak suka dengan bla bla bla..'

The world has shifted from black and white to coloured photograph. Why insist in using roll camera if ure not an expert? Only if ur a super ultra proffessional camera man, u can use the old style one. And only if ur the expert of hand-written note that u get paid for that, u can write everything manually.

Orang tidak akan peduli kamu bisa atau tidak. Biasa atau tidak. Selama itu dirasa menyusahkan, bisa saja kamu di coret dari daftar.

Ketiga, kategorikan daftar mulai dari yg prioritas, sampai yang minor.
Oh tapi semua penting dong, semua harus selesai. Bahkan kucing pun tahu tugas dia untuk diselesaikan bukan untuk dipandang dan dikeluhkan. Pasti selalu ada tugas-tugas yg lebih mendesak dari tugas lain. Entah itu karena desakan klien, desakan atasan, atau karena keistimewaan.

Kemampuan memilih prioritas utk dikerjakan, hanya bisa dilakukan oleh mereka yang punya self control. Once you know what is matter, you no longer have to do everything at once and forget to lunch.

Bekerja itu penting, tapi jangan sampai mengorbankan kesehatan. Its so not worth the sacrifice. Its like sacrificing your blood to the shark.

***

Jika dalam suatu waktu, di lingkungan tempatmu tinggal ada orang yg sering menghela napas dalam, berkeluh kesah tentang penuhnya isi kepala, tidak pernah fokus jika diajak bicara, dan selalu lupa pada semua hal, maka bersiaplah untuk tertular.

Complainer will only lead to procrastinator, procrastinator leads to unfinished task and unfinished task leads to complainer. Its an endless circle of rubbish you want to avoid.

Maka sedari sekarang perhatikan lingkungan sekitar. Jika nampak gejala di atas, segera cari cara to keep your sanity alive. For the love of God.. the happier you are, the more you realize how these problems are not significant.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert